Sony resmi memastikan bahwa produksi cakram fisik untuk PlayStation akan berakhir pada Januari 2028. Keputusan ini ditegaskan langsung oleh Chief Financial Officer Sony, Lin Tao, dalam paparan kinerja terbaru perusahaan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Meskipun telah mendapat tentangan keras selama sebulan terakhir, Sony tak bergeming. Lin Tao mengatakan bahwa perusahaan tetap berkomitmen pada rencana transisi ke distribusi digital penuh untuk rilis game baru setelah tanggal tersebut.
Pengumuman awal tentang penghentian ini sendiri sudah keluar sejak awal bulan. Sony memastikan game yang dirilis sebelum Januari 2028 tetap tersedia dalam bentuk fisik dan bisa dimainkan seperti biasa. Sementara itu, judul-judul baru setelahnya hanya akan tersedia melalui PlayStation Store dan mitra ritel dalam bentuk kode digital.
Keputusan ini langsung memicu gelombang kritik, terutama dari komunitas kolektor dan pegiat preservasi game. Kelompok fisik-games DoesItPlay bahkan berencana menggelar boikot selama sepekan pada pertengahan Agustus sebagai bentuk protes, seperti dilaporkan oleh Kotaku.
Bagi banyak pemain, cakram fisik bukan sekadar kemasan. Keberadaannya memungkinkan game dijual kembali, dipinjamkan, atau dibagikan ke teman. Selain itu, kepemilikan fisik dianggap sebagai jaminan akses jangka panjang, terutama mengingat Sony juga akan menutup toko PS3 dan PS Vita pada Juli 2027, meskipun konten yang sudah dibeli masih bisa diunduh.
Sony memang punya data kuat di balik langkah ini. Pada kuartal yang berakhir 30 Juni lalu, 82 persen penjualan game full-game PS4 dan PS5 berasal dari unduhan digital. Namun angka itu juga berarti sekitar 18 persen pembelian masih berupa cakram fisik. Dengan 125 juta pengguna aktif bulanan, jumlah itu bukanlah audiens yang bisa diabaikan begitu saja.
Menariknya, rasio digital Sony justru turun sedikit dibanding kuartal yang sama tahun lalu yang mencapai 83 persen. Artinya, tren digitalisasi pun mengalami perlambatan. Meski ritel tetap menjadi bagian dari strategi Sony, produk yang dijual di toko perlahan bakal berubah menjadi sekadar kemasan kosong berisi kode.
Lin Tao menambahkan bahwa penerbit tetap bisa menjual kotak dengan kode digital di pasar seperti Amerika Utara. Ia juga menegaskan bahwa kehadiran disc drive bukanlah pembeda utama PlayStation dibanding PC gaming, melainkan faktor lain seperti harga terjangkau, konten kurasi, dan lingkungan bermain yang stabil.
Bagi para penggemar yang berharap kritik dan boikot dapat mengubah arah Sony, pernyataan ini sekaligus penegasan bahwa langkah perusahaan sudah bulat. Masa depan PlayStation tampaknya makin digital, dan penggemar fisik harus bersiap menghadapi kenyataan itu.