Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko baru saja usai, namun turnamen ini menyisakan lebih dari sekadar aksi di lapangan hijau. Sebagai negara yang menjadi tuan rumah mayoritas pertandingan termasuk final antara Spanyol dan Argentina, AS justru menjadi sorotan karena berbagai kontroversi yang mewarnai jalannya kompetisi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Di satu sisi, para penggemar dari Eropa dan berbagai belahan dunia memuji keramahan warga AS, ukuran porsi makanan yang besar, hingga saus ranch yang ikonik. Di Boston, suporter Skotlandia bahkan berhasil mencuri perhatian dengan nyanyian dan permainan bagpipe mereka, sementara pub-pub lokal mencatat rekor penjualan hingga kehabisan stok bir.
Namun di sisi lain, politik dan kebijakan imigrasi AS membayangi turnamen. Delegasi Iran mengalami kesulitan ekstrem untuk mendapatkan visa dan harus meninggalkan sejumlah staf pendukung di tanah air. Bahkan, Iran menjadi satu-satunya tim yang diwajibkan tiba dan berangkat dari AS dalam waktu 24 jam pada hari pertandingan, yang jelas mengganggu persiapan dan istirahat mereka.
Bukan hanya tim, para penggemar dari Afrika dan Timur Tengah juga mengeluhkan pemeriksaan berjam-jam di bandara AS. Suporter Mesir bahkan mengaku sering menjadi sasaran pemeriksaan keamanan berlebih di stadion. Nasib pilu juga menimpa ibu kiper Cape Verde, Vozinha, yang gagal menyaksikan penampilan gemilang putranya melawan Spanyol karena masalah visa yang memakan biaya hingga US$15.000.
Kontroversi memuncak ketika Presiden AS Donald Trump mengaku telah menelepon FIFA untuk meminta pencabutan kartu merah yang diterima bintang AS, Folarin Balogun. FIFA pun menuruti dan menghapus larangan satu pertandingan tersebut, sehingga Balogun bisa tampil di babak 16 besar melawan Belgia. Langkah ini memicu kemarahan UEFA yang menilai FIFA telah melewati batas dan tunduk pada tekanan politik.
Selain masalah politik, sisi komersial turnamen juga menuai kritik. Pertunjukan musik ala Super Bowl dengan jeda 30 menit pada babak final, serta istirahat hidrasi wajib selama tiga menit yang membuat pertandingan terpecah seperti empat kuarter, dinilai lebih mengutamakan iklan daripada ritme sepak bola. Para pelatih pun mengeluh bahwa kebijakan ini merusak jalannya pertandingan.
Jurnalis CNA Digital, Zara Waseem, dalam komentarnya menyebut bahwa meski ada banyak momen luar biasa seperti aksi Jude Bellingham dan penyelamatan kiper Bono, Piala Dunia 2026 terasa meninggalkan rasa asam. "Setiap Piala Dunia meninggalkan kenangan, tapi kali ini saya juga akan mengingat kontroversi yang terlalu sering mengganggu sepak bola itu sendiri," tulis Zara.