Fontaines DC, Amyl & The Sniffers, dan lebih dari 400 artis lainnya resmi bergabung dalam kampanye No Music For Genocide. Kampanye ini merupakan inisiatif boikot budaya yang mendorong musisi untuk menarik karyanya dari platform streaming di Israel sebagai respons atas genosida di Gaza.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Selain dua nama besar tersebut, kampanye ini juga melibatkan Rina Sawayama, MIKE, Primal Scream, Faye Webster, Kneecap, Japanese Breakfast, Yaeji, King Krule, MJ Lenderman, Mannequin Pussy, Wednesday, Soccer Mommy, dan MØ. Sebagian besar berasal dari label independen.
Para artis yang tergabung telah mengedit wilayah rilis mereka atau mengirim permintaan geo-block ke distributor atau label. Mereka mendorong label besar seperti Sony, UMG, dan Warner untuk mengikuti langkah serupa, mengingat ketiganya pernah memblokir katalog dan menutup operasi di Rusia saat invasi ke Ukraina terjadi.
Kampanye ini menyatakan bahwa budaya memang tak bisa menghentikan bom, namun dapat menolak represi politik dan menolak pencucian seni oleh perusahaan atau negara yang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Kami terinspirasi oleh berbagai upaya global, dari komitmen Film Workers For Palestine hingga larangan Spanyol terhadap kapal dan pesawat tujuan Israel, tulis koalisi dalam pernyataan resmi.
Melalui akun Instagram resmi, koalisi menegaskan bahwa inisiatif ini adalah gerakan sukarela terdesentralisasi tanpa dukungan institusi. Boikot ini bukan menargetkan individu, melainkan penolakan terhadap industri budaya apartheid Israel yang bekerja sama dengan institusi musik global untuk memutihkan genosida.
Sementara itu, Massive Attack mengambil langkah lebih jauh dengan meminta label mereka, UMG, untuk menarik seluruh musik mereka tidak hanya dari platform streaming di Israel, tetapi dari Spotify secara keseluruhan. Keputusan ini terkait laporan bahwa CEO Spotify Daniel Ek berinvestasi besar di perusahaan yang memproduksi drone amunisi dan teknologi AI untuk pesawat tempur.
Dalam pernyataan di Instagram, Massive Attack menyebut beban ekonomi yang selama ini ditanggung musisi kini ditambah beban moral dan etis. Uang hasil kerja keras penggemar dan kreativitas musisi disebut berpotensi mendanai teknologi mematikan. Mereka menilai kampanye No Music For Genocide menjadi langkah yang wajib dilakukan mengingat preseden sejarah boikot terhadap apartheid Afrika Selatan.
Massive Attack juga mengaitkan kampanye ini dengan gerakan Film Workers For Palestine yang melibatkan lebih dari 4.500 sineas. Mereka mengajak seluruh musisi untuk menyalurkan kesedihan dan kemarahan menjadi aksi nyata guna mengakhiri penderitaan yang dialami rakyat Palestina. Kami mengimbau semua musisi untuk mentransfer kesedihan dan kontribusi artistik mereka menjadi tindakan yang koheren dan vital, tulis mereka.
Sejak 1999, Massive Attack memang sudah memboikot pertunjukan di Israel. Mereka juga sebelumnya mendukung Kneecap yang diselidiki polisi anti-teror di Inggris. Sejumlah artis lain seperti King Gizzard & The Lizard Wizard, Xiu Xiu, dan Deerhoof juga ikut memboikot Spotify.