Proyek kontroversial dari Presiden FIFA Gianni Infantino untuk menjual saham Piala Dunia kepada investor privat kini menghadapi gelombang penolakan keras dari berbagai konfederasi sepak bola dunia. UEFA bahkan mengancam akan memboikot edisi mendatang jika rencana ini tetap dilanjutkan, sebuah langkah yang bisa memicu krisis terbesar dalam sejarah organisasi sepak bola global.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Gelombang kritik pertama datang dari UEFA yang menyatakan Piala Dunia bukanlah produk investasi. "Piala Dunia tidak untuk dijual. Ini adalah warisan yang dibangun selama bergenerasi oleh pemain, tim nasional, dan suporter dari semua benua," tegas UEFA dalam pernyataan resminya. Konfederasi Eropa itu juga menuding FIFA memberikan ultimatum kepada asosiasi anggota untuk menerima proposal atau kehilangan tawaran pembayaran pengembangan.
Conmebol menyusul dengan pernyataan kerasnya. Konfederasi sepak bola Amerika Selatan itu menegaskan bahwa sepak bola harus selalu menjadi prioritas utama di atas kepentingan bisnis. "Kami memahami bahwa pengembangan sepak bola memerlukan keputusan komersial, namun itu tidak boleh mengorbankan esensi olahraga," demikian pernyataan Conmebol yang dikutip Jumat (1/8).
Dukungan terhadap penolakan juga datang dari AFC dan Concacaf. Konfederasi Asia menyatakan keprihatinan mendalam karena tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. "Fakta bahwa boikot Piala Dunia kini menjadi perdebatan publik seharusnya menjadi perhatian semua pihak yang peduli pada masa depan olahraga ini," tulis AFC. Sementara Concacaf secara resmi menolak proposal tersebut setelah pertemuan darurat.
Kritik tajam bahkan datang dari dalam tubuh FIFA sendiri. Carlos Cordeiro, penasihat utama Gianni Infantino, mengumumkan pengunduran dirinya secara mengejutkan. "Saya tidak bisa tinggal diam saat FIFA mempertimbangkan untuk menjual sebagian Piala Dunia. Ini adalah kesepakatan buruk bagi asosiasi anggota dan masa depan sepak bola," ujar Cordeiro dalam pernyataan yang dirilisnya.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham juga ikut angkat bicara menilai Infantino adalah orang yang salah untuk memimpin FIFA. "Proposal keterlaluan ini menunjukkan bahwa Gianni Infantino adalah pemimpin yang keliru untuk organisasi ini," ujarnya di Sheffield. Mantan gelandang Spanyol Xabi Alonso yang kini menangani Chelsea juga menolak rencana tersebut, "Saya berharap itu tidak akan terjadi. Sepak bola harus menjadi milik publik."
Di tengah badai kritik, FIFA justru bersikeras melanjutkan rencananya. Dalam pernyataan resmi, FIFA mengakui adanya kekhawatiran namun menegaskan bahwa tidak ada yang menjual sepak bola. "Proses konsultasi akan terus berjalan agar setiap asosiasi anggota dapat memberikan suara dengan pengetahuan yang memadai," demikian bunyi pernyataan FIFA. Namun, ketegangan semakin memuncak karena batas waktu bagi 211 fede rasi untuk memberikan jawaban hanya hingga 19 September.
Uni Eropa melalui Komisaris Glenn Micallef turut mengirimkan peringatan keras. "Proposal ini memunculkan pertanyaan serius terkait hukum persaingan. Jangan sentuh olahraga kami," ancamnya. Sementara itu, hanya Federasi Sepak Bola Ceko yang terang-terangan mendukung inisiatif Infantino dengan alasan manfaat pragmatis bagi sepak bola Ceko.
Jika proyek ini mendapatkan persetujuan dari 50 persen anggota FIFA, maka rencana tersebut akan disahkan oleh Dewan FIFA. Namun dengan ancaman boikot dari Eropa yang menyumbang kekuatan besar di Piala Dunia, jalan Infantino menuju kesuksesan proyek ini tampak semakin terjal. Piala Dunia 2030 yang dijadwalkan berlangsung di Spanyol, Portugal, dan Maroko pun kini berada di bawah ancaman.
Sepp Blatter, mantan Presiden FIFA yang legendaris, juga keluar dari persembunyiannya untuk mengecam keras langkah Infantino. Blatter menyebut proyek ini sebagai "kerugian serius bagi sepak bola". Dengan tekanan yang terus mengalir dari berbagai penjuru, nasib masa depan sepak bola global dan kedaulatan Piala Dunia kini berada di ujung tanduk.