Langkah kontroversial kembali diambil oleh Presiden FIFA Gianni Infantino terkait masa depan turnamen sepak bola terakbar di dunia. FIFA dikabarkan berencana mengemas hak komersial Piala Dunia ke dalam sebuah perusahaan baru senilai USD 20 miliar dan menjual sebagian sahamnya kepada investor swasta.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Rencana tersebut langsung memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk UEFA. Lembaga tertinggi sepak bola Eropa itu menilai bahwa langkah tersebut telah melewati batas yang seharusnya tidak boleh dilanggar oleh institusi pengelola sepak bola.
"Tidak ada satupun dari kita yang menjadi pemilik sepak bola. Ini bukanlah milik FIFA untuk dijual," tegas pihak UEFA dalam pernyataan resminya menanggapi manuver bisnis tersebut.
Kritik tajam juga datang dari ranah politik, di mana politisi Inggris Andy Burnham menegaskan bahwa sepak bola sepenuhnya milik para suporter. Ia menyebut kecintaan publik terhadap turnamen ini sudah dibangun selama hampir satu abad lamanya.
Di sisi lain, kedekatan Infantino dengan sejumlah tokoh politik dunia seperti Presiden AS Donald Trump turut menjadi sorotan publik. Keterlibatan pihak-pihak tertentu dalam lingkaran kekuasaan memunculkan pertanyaan besar mengenai transparansi di tubuh organisasi.
Sebagai pengamat budaya sepak bola, para ahli mengingatkan bahwa nilai historis Piala Dunia lahir dari keringat dan loyalitas para suporter, bukan diciptakan oleh modal privat. Menjual hak komersial secara berlebihan dinilai dapat merusak warisan budaya sepak bola global.
Meski demikian, banyak pihak masih menaruh harapan pada perlawanan para penggemar seperti yang pernah terjadi pada kasus European Super League sebelumnya. Kekuatan suporter terbukti mampu meruntuhkan ambisi bisnis kaum kapitalis yang mengancam kemurnian olahraga.