Pengunduran diri Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan memberi kemenangan besar bagi gelombang protes kaum muda yang dipicu skandal kebocoran soal ujian masuk perguruan tinggi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Melansir Reuters, suasana perayaan dilaporkan langsung pecah di kawasan Jantar Mantar, New Delhi, yang selama beberapa hari terakhir menjadi pusat demonstrasi. Ribuan pengunjuk rasa bersorak dan menari merayakan mundurnya Pradhan.
"Kita berhasil," ujar pendiri Cockroach Janta Party (CJP), Abhijeet Dipke, yang memimpin aksi unjuk rasa tersebut.
Aksi unjuk rasa terbesar di India dalam beberapa tahun terakhir ini telah menjadi masalah besar bagi Perdana Menteri India Narendra Modi, seiring dukungan sejumlah politisi oposisi terhadap para pemuda serta gangguan terhadap jalannya sidang parlemen.
Pemandangan unjuk rasa berskala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya serta penggunaan gas air mata oleh polisi untuk mengendalikan massa juga telah memicu kemarahan publik yang meluas.
Pihak berwenang membela tindakan mereka dengan dalih semata-mata menjaga ketertiban dan kepatuhan hukum di tengah situasi aksi yang memanas.
Melalui platform X, Pradhan sebelumnya mengatakan pengunduran diri diambil agar situasi tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin mengganggu stabilitas negara.
"Mempertimbangkan situasi yang telah terjadi di Jantar Mantar dan di seluruh negeri, agar kekuatan anti-nasional tidak mengambil keuntungan dari situasi ini ... saya telah mengirimkan surat pengunduran diri saya kepada Perdana Menteri," tulis Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan dalam sebuah unggahan di X.
Ia mengumumkan pengunduran dirinya beberapa jam sebelum pemerintah kembali menggelar perundingan dengan para pemimpin aksi untuk membahas tuntutan para demonstran.
Tuntutan tersebut mencakup pengunduran diri menteri pendidikan terkait kebocoran soal ujian masuk perguruan tinggi kedokteran yang bergengsi pada bulan Mei lalu.
Insiden ini berujung pada pembatalan hasil ujian dan perintah pemerintah untuk mengadakan tes ulang, yang berdampak langsung pada sekitar 2 juta anak muda.