Fi (42) dan Will (42) berbagi kisah rumit tentang ketimpangan gairah seksual yang nyaris menghancurkan keintiman mereka. Dalam kolom "This Is How We Do It" di The Guardian, pasangan ini mengungkap bagaimana depresi dan rasa rendah diri Will membuatnya menolak ajakan seks hingga 80 persen, sementara Fi mengaku bisa melakukannya setiap hari.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Fi mengisahkan momen menyakitkan ketika ia bangun dengan hasrat dan mengajak Will bercinta cepat, namun ditolak dengan alasan kelelahan. Keesokan harinya, Fi justru mendapati Will masturbasi di tempat tidur. "Saya menangis tersedu-sedu di perjalanan ke kantor. Saya tahu perasaan saya tidak rasional, tapi itu nyata," ujar Fi.
Bagi Fi, seks adalah jembatan kedekatan emosional. Namun bagi Will, justru sebaliknya: ia butuh merasa dekat secara emosi sebelum bisa berhubungan intim. Depresi, kecemasan performa, dan kepercayaan diri rendah membuat libido Will jauh di bawah istrinya.
Hingga beberapa pekan lalu, mereka belum bercinta selama lebih dari enam bulan. Fi mengaku hubungan sebelumnya juga mengalami masa tanpa seks selama lima tahun, dan ia tak mau mengulangi pengalaman hidup bersama teman tanpa keintiman. Ia juga menyadari perannya sendiri dalam masalah ini karena sulit terbuka dan cenderung membangun tembok.
Will mengaku sering bertanya pada Fi mengapa ia mau bertahan dengannya. "Ia segalanya beres, sementara saya sering melihat diri saya sebagai seseorang yang tidak berarti," ungkap Will. Rendahnya harga diri dan konsumsi antidepresan menciptakan diskoneksi antara otak dan penisnya. Ia terlalu banyak berpikir: takut ejakulasi dini atau malah tak bisa klimaks sama sekali.
Mereka bertemu di aplikasi kencan Hinge 18 bulan lalu. Will hampir menyerah pada dunia dating, namun berjalan kaki bersama Fi membuatnya yakin. Mantan pasangan Will pernah melakukan kekerasan emosional dan fisik, sehingga ia sangat membutuhkan kejujuran dan kebaikan yang langsung ia rasakan dari Fi. Putri Will pun langsung cocok dengan Fi.
Masalah mulai muncul setelah mereka tinggal bersama musim gugur lalu. Hidup lebih diisi urusan rumah tangga daripada seks, dan cedera punggung Will memperparah keadaan. Ia bahkan tak bisa meraih lengan Fi tanpa rasa sakit luar biasa. Fi terus menyemangati, namun Will merasa tak berguna secara fisik dan mental.
Will menjelaskan bahwa masturbasi yang ditemukan Fi bukanlah pilihan atas Fi. Ia melakukannya untuk mencoba tidur kembali. "Bercinta dengan Fi sangat berbeda, saya harus hadir secara emosional karena saya sangat peduli apakah ia menikmatinya juga," katanya.
Meski perlahan keluar dari kebuntuan, Fi kini enggan memulai inisiatif karena takut ditolak. Ia khawatir Will melihatnya lebih sebagai figur ibu daripada pasangan seksual. Will justru menganggap Fi luar biasa, dan justru itu masalahnya: karena ia merasa dirinya tak berharga, berada bersama seseorang yang luar biasa terasa sangat berat.
Namun temuan Fi saat Will masturbasi justru memicu percakapan paling sehat dalam hubungan mereka. Will memahami bahwa kata-kata saja tak cukup, ia harus menunjukkan ketertarikan lewat tindakan. Kini mereka bercinta sekitar seminggu sekali, dan Will mengaku saat mereka melakukannya, hubungan mereka "dahsyat". Fi pun mendapatkan validasi yang ia butuhkan, sambil belajar memperlambat ritme dan lebih terbuka.