Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Rachel Chinouriri, dari Bullyan...
BERITA

Rachel Chinouriri, dari Bullyan Rasisme Hingga Pop Bintang

By Redaksi Kabayan News • 4 min read • 31 Juli 2026
Rachel Chinouriri tersenyum dengan latar panggung konser memegang mikrofon

Rachel Chinouriri tersenyum dengan latar panggung konser memegang mikrofon

Rachel Chinouriri, penyanyi yang dijuluki "pop star favorit semua pop star" di Inggris, tengah berada di puncak karier. Pekan ini ia tampil di depan 45.000 penonton di Finsbury Park mendampingi Wolf Alice, sehari setelah meraih penghargaan perdana di O2 Silver Clef Awards. Namun jalan menuju panggung utama tak semulus yang dibayangkan.

Pada Oktober 2017, Chinouriri mengalami serangan panik pertama tepat sebelum manggung besar mendampingi Celeste di klub Laylow London. "Saya mulai mengalami mental breakdown," kenangnya. Manajernya menyuruhnya pulang, tapi rasa malu justru membuncah. Ia memilih naik panggung sambil "setengah menangis".

Tangis sudah jadi respons lazim atas kecemasan tampilnya. Saat pertama kali bernyanyi di depan teman sekelas di Brit School, ia pun menangis histeris. Namun pengalaman pahit itu justru menjadi tonggak: "Saya bisa berdiri di atas panggung dengan malu total, orang-orang bingung, tapi saya tetap melewatinya dan semuanya baik-baik saja."

Tumbuh di Croydon sebagai satu-satunya dari lima bersaudara yang lahir di Inggris, Chinouriri menghadapi bully rasisme ekstrem di sekolah menengah. Ia diludahi, dipanggil kata N, dan diteror dengan suara monyet di lorong. Seorang siswa bahkan dikeluarkan karena perundungan itu. Chinouriri akhirnya pindah ke sekolah yang lebih beragam dengan berpura-pura menjadi ibunya di formulir pendaftaran.

Di rumah, ibunya menjalankan rumah tangga Kristen yang ketat sambil merawat ayah yang sakit. Kedua orangtuanya pernah menjadi tentara anak dalam perang kemerdekaan Zimbabwe. Namun Chinouriri mengenang bagaimana keluarganya mengubah kesulitan jadi tawa, bahkan saat listrik padam. "Mereka menemukan cara mengubah perjuangan jadi sesuatu yang indah untuk bertahan hidup."

Di Brit School, tempat yang melahirkan Adele dan Amy Winehouse, Chinouriri menemukan kebebasan berekspresi. Meski tak sekelas dengan Olivia Dean dan Cat Burns, namanya sering disebut. Di sekolah itu, ia melihat seorang gadis melukis dirinya seperti karakter anime setiap hari dan berjalan seperti biasa. "Saya suka level ekspresi dan kebebasan itu," katanya.

Album debut What a Devastating Turn of Events (2024) meledak dengan kejujuran brutal. Lagu judul bercerita tentang bunuh diri sepupunya akibat kehamilan tak diinginkan, sementara My Blood mengangkat tema melukai diri. Stream lagunya mencapai ratusan juta. Namun Chinouriri juga dikecewakan karena industri kerap memasukkan musiknya ke kategori R&B atau soul hanya karena ia berkulit hitam.

Di album kedua I Think I Spoke Too Soon, ia mengubah arah. Judulnya literal: "Di awal 20-an saya sangat yakin siapa diri saya, lalu frontal lobe saya berkembang dan saya sadar, saya bukan orang itu." Ia juga belajar tentang Saturn return, momen astrologi yang mengubah hidup di akhir 20-an. "Saya merasakan pergeserannya."

Album baru ini didominasi synth cerah dan irama dansa, terinspirasi Madonna, Kylie Minogue, Donna Summer, Prince, dan LCD Soundsystem. Lagu utama One Song Away from Crying dirancang untuk "menyelesaikan masalah di lantai dansa". Meski ada gema indie lama, nuansa pop dansa lebih dominan.

Salah satu lagu, Broken Chair, mengangkat hubungannya dengan alkohol secara jenius dari sudut pandang kursi rusak di pinggir jalan. "Kamu terlihat kesepian, tapi tidak denganku / Aku punya banyak teman sampai panggilan terakhir." Lagu itu lahir saat ia memutuskan jadi peminum teetotaler karena sadar mabuk bukan tempat bahagianya.

Chinouriri juga bangga karena basis penggemarnya didominasi komunitas queer. Setelah timnya menganalisis audiens, ia langsung memberi kabar ke grup chat penggemar: "Pengumuman: semua orang di sini gay dan ini indah."

Ke depannya, ia akan tampil di festival Daisy Chain Fields milik Olivia Rodrigo di California dan tur Amerika bersama Gracie Abrams. Ia juga mengingatkan penggemar soal dress code era baru: biru, perak, ungu, dan "kilauan iridesen". "Ini akan sangat menyenangkan."

Chinouriri menyadari perjuangannya sebagai perempuan kulit hitam di indie pop belum usai. Di festival, ia masih sering menjadi satu-satunya atau bersama Cat Burns. "Fakta bahwa dua gadis pop kulit hitam dari sekolah yang sama dipesan di seluruh Inggris... itu menarik," katanya.

Kini, ia memilih fokus pada penerimaan diri. "Apa pun yang terjadi, jika saya dipaksa masuk kotak lagi, biarkan saja. Saya sudah berjuang keras. Saya sudah berusaha terbaik. Tapi saya harus percaya itu tak akan terjadi karena saya sudah menemukan cara untuk tahu siapa saya."

Topics
rachel chinouriri indie pop album kedua i think i spoke too soon brit school bully rasisme pop inggris sabrina carpenter olivia rodrigo wolf alice
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.