Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nyaris menyentuh level psikologis 6.000 pada perdagangan Rabu (29/7). Meski sempat memangkas kerugian, indeks masih terperosok ke zona merah di akhir sesi I, dibayangi sentimen negatif dari global hingga domestik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan data perdagangan, hingga pukul 12.00 WIB, IHSG turun 37 poin atau 0,60% ke level 6.093,59. Sepanjang sesi I, indeks bahkan sempat jatuh ke level terendah 6.029,32 dan tertinggi 6.174,41. Nilai transaksi tercatat Rp16,84 triliun dengan volume 25,95 miliar saham.
Hampir seluruh sektor terpantau memerah. Sektor properti menjadi yang paling terpuruk dengan koreksi 4,27%, diikuti utilitas minus 3,21%, dan konsumer non-primer turun 1,23%. Pelemahan juga terjadi pada sektor industri, teknologi, energi, konsumer primer, kesehatan, keuangan, serta bahan baku.
Secara teknikal, IHSG masih berada di bawah Weighted Moving Average (WMA) 20 di level 6.146. Indikator MACD juga menunjukkan momentum penguatan mulai meredup, menambah sinyal pelemahan dalam jangka pendek.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai tekanan jual dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari luar negeri, pasar sedang wait and see menjelang keputusan suku bunga The Fed. Sementara dari dalam negeri, investor mencerna kinerja emiten semester I-2026 yang beragam.
"Dari eksternal, market sentiment masih cenderung berhati-hati menjelang sejumlah agenda global, sehingga memicu berkurangnya risk appetite terhadap aset berisiko. Dari domestik, pasar juga sedang mencerna rilis kinerja Semester I-2026 yang hasilnya bervariasi, sehingga mendorong aksi profit taking pada sejumlah saham yang sebelumnya telah menguat," ujar Elandry kepada CNBC Indonesia.
Menurut Elandry, meski volume transaksi belum melonjak signifikan, tekanan jual masih mendominasi. Ia menilai pelemahan saat ini masih dalam tahap konsolidasi wajar dan belum mencerminkan perubahan fundamental pasar. "Hal ini mengindikasikan investor cenderung melakukan penyesuaian portofolio sambil menunggu katalis baru. Selama belum ada sentimen negatif baru, kami melihat pelemahan ini masih berada dalam fase konsolidasi yang wajar, bukan mencerminkan perubahan fundamental pasar secara keseluruhan," jelasnya.
Untuk pergerakan jangka pendek, Elandry memproyeksikan IHSG akan konsolidatif dengan support di kisaran 6.050-6.080. Jika level ini jebol, indeks berpeluang menguji 6.000. Sementara resistance berada di 6.150-6.200, dan peluang rebound akan terbuka jika aliran dana asing kembali masuk.
Senada, Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebut pergerakan IHSG masih sejalan dengan proyeksi teknikal. Ia mencatat dalam sepekan terakhir terjadi outflow asing di pasar reguler mencapai Rp4,36 triliun.
Herditya mengungkapkan ada tiga faktor utama yang membebani. Pertama, investor menanti hasil FOMC Meeting pada 29 Juli waktu setempat, di mana The Fed diperkirakan masih mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%. Kedua, kenaikan harga minyak Brent dan WTI ke US$80 per barel akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah. Ketiga, rupiah yang kembali melemah ke level Rp18.000 per dolar AS.
Meski volatilitas meningkat, Herditya masih optimistis dengan prospek jangka menengah. Ia mempertahankan proyeksi base case IHSG di level 7.000, sedangkan bear case di level 6.100, yang menandakan fundamental pasar saham Indonesia dinilai masih terjaga.