Kabayan News Kabayan News
/home / ekonomi / DBS Incar Peluang Besar dari...
EKONOMI

DBS Incar Peluang Besar dari Gelombang Investasi AI dan Energi

By Dewi Lestari • 3 min read • 29 Juli 2026
Ilustrasi investasi AI dan energi yang menjadi fokus strategi DBS di tengah siklus capex global

Ilustrasi investasi AI dan energi yang menjadi fokus strategi DBS di tengah siklus capex global

Jakarta - Perekonomian global disebut-sebut memasuki era baru siklus belanja modal yang didorong oleh dua kekuatan besar: kecerdasan buatan (AI) dan energi. Chief Investment Office (CIO) DBS melihat peluang ini sebagai momen emas bagi investor yang jeli membaca arah pasar.

Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook mengungkapkan, pertumbuhan pendapatan perusahaan AS melonjak 26% pada kuartal terakhir, dipimpin oleh saham-saham AI. Meski rasio price-to-earnings (PER) turun 13% menjadi 22x, rasio PEG tetap sejalan dengan ekspektasi pertumbuhan.

"Kami tetap berkomitmen penuh pada eksposur terkait AI, sembari menyadari bahwa pasar semakin terkonsentrasi, di mana 10 saham AI teratas menghasilkan sekitar 78% dari kenaikan indeks," tegas Hou Wey Fook dalam keterangan resmi, Kamis (9/7/2026).

Tak hanya AI, sektor energi juga menjadi fokus utama. Wey Fook menyebut bahwa belanja modal terkait AI yang mencapai sekitar US1triliunpertahunakanmendorongpermintaanlistrikdantenagasecarasignifikan.

′Kembalinyaisuketahananenergi,ditambahbelanjamodalterkaitAIyangberkelanjutansekitarUS 1 triliun per tahun selama beberapa tahun ke depan akan mendorong permintaan akan tenaga dan listrik," sambungnya.

Peluang investasi di sektor energi mencakup hidrokarbon tradisional dan terbarukan, serta infrastruktur energi seperti penyimpanan, jaringan grid, dan tenaga nuklir. DBS menilai pemulihan belanja modal terjadi di seluruh rantai nilai energi setelah bertahun-tahun investasi rendah.

"Di sektor energi, investasi lebih rendah dari yang diharapkan selama bertahun-tahun serta meningkatnya kekhawatiran akan ketahanan energi juga sedang mengkatalisasi pemulihan belanja modal di seluruh rantai nilai," ungkap Wey Fook.

DBS lebih memilih penerima manfaat tipe penyedia sarana penunjang (pick-and-shovel) yang siap menangkap peningkatan intensitas belanja modal. Fokusnya ada pada ekosistem semikonduktor, jaringan dan perangkat keras khusus, serta penyedia layanan dan peralatan minyak.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah disebut memiliki konsekuensi makro yang signifikan. Konflik berkepanjangan meningkatkan risiko harga energi bertahan tinggi, sementara ekspansi fiskal di sektor pertahanan dan kebijakan industri memperkuat risiko inflasi ekstrem.

Lonjakan investasi AI juga menjadi pendorong inflasi jangka pendek karena pembangunan infrastruktur masif meningkatkan permintaan perangkat lunak, komponen elektronik, hingga listrik. Selain itu, keluarnya Tiongkok dari deflasi turut menambah tekanan harga global.

Menghadapi kondisi ini, DBS menilai investor yang mengabaikan inflasi kurang tepat. Untuk obligasi, mereka menghindari durasi ultra-panjang dan fokus pada kredit investment grade dengan durasi portofolio rata-rata 5-7 tahun untuk pendapatan maksimum dengan risiko penurunan harga rendah.

Karena obligasi tak lagi jadi lindung nilai andal, DBS merekomendasikan diversifikasi ke emas, komoditas, dan saham domestik Tiongkok yang memiliki korelasi rendah dengan ekuitas global. Emas dinilai efektif sebagai safe haven di tengah ketidakpastian.

Melalui layanan DBS Treasures dan DBS Treasures Private Client, Bank DBS menghadirkan wawasan global dari CIO terbaik Asia yang dipersonalisasi. Nasabah didukung Relationship Manager berpengalaman untuk menyusun strategi pengelolaan kekayaan sesuai dinamika pasar.

Komitmen DBS dalam pengelolaan kekayaan komprehensif juga diakui sejumlah lembaga. Baru-baru ini, Bank DBS Indonesia meraih penghargaan Indonesia's Best Private Bank 2026 dari FinanceAsia, Best Priority Banking Experience 2026 dari Asian Banking & Finance, serta Best Wealth Manager Highly Commended dari The Asset.

Topics
dbs investasi ai energi belanja modal semikonduktor inflasi geopolitik the fed emas saham tiongkok
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.