Presiden FIFA Gianni Infantino akhirnya mengubur dalam-dalam rencana kontroversial untuk menjual saham Piala Dunia kepada investor swasta. Langkah ini diambil setelah gelombang kritik deras dari berbagai pihak, termasuk konfederasi sepak bola terbesar di dunia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Rencana yang diumumkan pada akhir Juli lalu itu mengundang kecaman luas, terutama dari UEFA yang mengancam akan memboikot edisi Piala Dunia berikutnya. CONCACAF dan AFC juga menyatakan penolakan tegas terhadap proposal yang digagas Infantino tersebut.
Thrive Capital, firma investasi asal Amerika yang dipimpin Joshua Kushner, disebut sebagai investor utama dalam proyek ini. Hubungan Kushner dengan keluarga presiden AS Donald Trump semakin memicu kontroversi di kalangan internasional.
Penolakan dari tiga konfederasi besar membuat rencana itu otomatis gagal karena membutuhkan dukungan 106 dari 211 negara anggota FIFA. Situasi diperparah dengan pengunduran diri penasihat senior FIFA, Carlos Cordeiro, sebagai bentuk protes internal.
Dalam pernyataan resminya, Infantino mengakui bahwa proyek ini menciptakan perpecahan yang tidak sehat. "Setelah mendengarkan semua pandangan, menjadi jelas bahwa proyek ini menciptakan perpecahan yang, terlepas dari tingkat dukungannya, tidak lagi sejalan dengan tujuan awal," demikian bunyi pernyataan yang dirilis, Jumat (1/8).
Infantino juga menegaskan komitmennya untuk tetap menyatukan dunia sepak bola. "Tujuan kami selalu untuk mempersatukan dan meningkatkan. Karena itu, proposal ini tidak akan dilanjutkan," lanjutnya dalam pernyataan yang sama.
Kekalahan politik ini menjadi pukulan terbesar bagi Infantino sejak ia menjabat sebagai presiden FIFA. Kegagalan ini kerap dibandingkan dengan proyek European Super League yang kandas, namun dengan konsekuensi yang lebih personal bagi Infantino.
Krisis ini membuat posisi Infantino sebagai presiden semakin goyah. Kritikan dari Chief Operating Officer FIFA, Kevin Lamour, yang menyebut adanya "kurangnya rasa hormat yang serius" dalam proses pengambilan keputusan, menambah deretan masalah yang harus dihadapi.
Meskipun belum ada langkah konkret untuk mosi tidak percaya, tekanan untuk mencari kandidat pengganti terus menguat menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret 2027. Saat ini, belum ada nama yang muncul sebagai kandidat kuat untuk menggantikan Infantino.
Nasib Infantino akan sangat bergantung pada dukungan anggota FIFA dalam beberapa bulan ke depan. Jika kegagalan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin ia akan menjadi presiden FIFA pertama yang lengser sebelum masa jabatannya berakhir.