Korban tewas akibat wabah Ebola terbaru di Democratic Republic of the Congo telah melonjak melampaui 1.354 jiwa. Angka ini mencatat lonjakan luar biasa lebih dari 40 persen hanya dalam kurun waktu lima hari, berdasarkan data resmi pemerintah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Data terbaru menunjukkan total kasus terkonfirmasi, termasuk kematian, telah mencapai 3.075 kasus. Tingkat percepatan penularan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menjadikan epidemi di DRC sebagai wabah Ebola dengan penyebaran tercepat yang pernah didokumentasikan dalam sejarah.
Abdulsalami Nasidi, seorang konsultan kesehatan masyarakat yang turut membantu mendirikan Africa Centres for Disease Control and Prevention, mengungkapkan bahwa ketiadaan vaksin yang terbukti ampuh membuat virus tersebut "menyebar bagaikan api liar" di tengah wilayah konflik aktif.
Di tengah krisis yang memburuk, para ilmuwan berpacu dengan waktu untuk menemukan solusi medis. Oxford Vaccine Group mengumumkan bahwa seorang relawan telah menerima dosis pertama dari vaksin eksperimental yang dikembangkan secara cepat sebagai bagian dari kolaborasi multinasional.
Situasi di lapangan semakin pelik akibat aksi mogok kerja yang dilakukan oleh para tenaga kesehatan di provinsi Ituri karena persoalan gaji yang belum dibayar serta minimnya alat pelindung diri. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa jumlah kasus sebenarnya bisa dua kali lipat lebih tinggi dari angka resmi akibat hambatan keamanan.