Ketegangan militer antara Rusia dan Ukraina kembali memakan korban jiwa setelah serangkaian serangan drone mematikan menghantam sejumlah wilayah pada akhir pekan ini. Sedikitnya 15 orang, termasuk lima anak-anak yang sedang berada di sebuah perkemahan liburan di wilayah timur yang dikuasai Rusia, dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Pihak berwenang Rusia secara terbuka menuding Ukraina sengaja menargetkan warga sipil dalam insiden pengeboman di Kyrylivka tersebut. Sementara itu, pihak Ukraina belum memberikan komentar resmi langsung terkait serangan yang menimpa kawasan yang telah jatuh ke tangan Moskow sejak invasi dimulai pada tahun 2022 itu.
Di wilayah Sumy, Ukraina, serangan drone militer Rusia menewaskan tiga pengemudi layanan kurir Nova Poshta sekaligus membakar sebuah fasilitas sipil. Pejabat setempat menegaskan bahwa lokasi tersebut murni merupakan fasilitas logistik sipil, meskipun Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim target serangan itu adalah lokasi penyimpanan dan peluncuran drone militer Ukraina.
Eskalasi kekerasan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan melalui pidato malamnya bahwa intelijen mendeteksi indikasi serangan skala besar dari Rusia. Di tengah situasi yang memanas, Gedung Putih mengumumkan bahwa Donald Trump dan Volodymyr Zelenskyy dijadwalkan akan segera menggelar pertemuan di Washington.
Dari jalur diplomatik, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev menilai bahwa peluang damai masih terbuka jika kedua pihak sepakat membekukan konflik dan kembali ke meja perundingan. Berbicara di Omsk, ia memuji fleksibilitas diplomatik Presiden Vladimir Putin dan mengusulkan pemanfaatan kembali kerangka perundingan Istanbul yang diperbarui.
Di perbatasan Eropa, Kementerian Pertahanan Rumania menyatakan bahwa militer mereka berhasil menembak jatuh sebuah drone yang melanggar wilayah udara dekat perbatasan Ukraina. Insiden ini menambah daftar panjang gangguan keamanan udara yang melibatkan anggota NATO akibat konflik yang telah memasuki tahun keempat tersebut.