Empat koleksi puisi terbaru dari penyair kontemporer hadir dengan warna yang sangat beragam. Mulai dari pengamatan urban Matthew Welton hingga eksplorasi identitas Jana Prikryl, semuanya menawarkan pengalaman membaca yang memikat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Matthew Welton dalam Small Birds Singing menghadirkan puisi-puisi pendek tentang kehidupan kota. Melalui bait-bait tak berima yang mengembang dan mengerut, Welton mengajak pembaca melihat hal-hal kecil yang sering terlewat: gulma di balik beton, bayangan burung gagak di halaman, atau tumpukan kardus di tong daur ulang. Ia mengingatkan bahwa puisi ada di mana-mana.
Jana Prikryl dalam The Channel mengambil inspirasi dari King Lear. Ia menyuarakan Cordelia untuk menceritakan pengalaman keluarganya sebagai pengungsi dari Republik Ceko. Bait-baitnya melompat dari kamp pengungsi ke drama Shakespeare, dari pesan teks ke novel Milan Kundera. Prikryl menciptakan bahasa puisi baru yang menghubungkan segala hal.
Helen Mort dalam Stepmother mengangkat tema ibu tiri yang jarang dibahas. Ia menggabungkan pengalaman pribadinya dengan representasi ibu tiri dalam mitologi dan dongeng. Mort menunjukkan bagaimana citra buruk ibu tiri terus dilanggengkan, namun ia juga menawarkan jalan keluar: cinta adalah pilihan setiap hari, bukan takdir.
Martina Evans dalam Drunken Driving melanjutkan kisah Imelda, tokoh dari The Coming Thing. Sepuluh tahun kemudian, Imelda kini menjadi ibu muda yang bekerja di penjara Pentonville. Soneta-soneta Evans dibumbui kutipan dari protokol penjara dan novel Dracula, menciptakan atmosfer mencekam yang menggambarkan kehidupan di balik tembok penjara dan di jalanan London.