Dua tentara wanita Israel meninggal dunia akibat bunuh diri dalam sepekan terakhir, menambah deretan panjang kasus bunuh diri di tubuh militer Israel yang kian mengkhawatirkan. Total sejak awal tahun 2026, sudah 16 prajurit aktif yang mengakhiri hidupnya, sebagaimana dilaporkan oleh surat kabar Haaretz pada Selasa (29/7).
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Insiden pertama terjadi pada Selasa pagi di sebuah pangkalan militer di selatan Israel. Seorang tentara wanita dari Batalyon Bardelas yang bertugas di perbatasan Mesir-Israel ditemukan dalam kondisi terluka di pangkalan dan kemudian dilarikan ke rumah sakit. Namun, nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.
Keesokan harinya, tragedi serupa kembali terjadi. Seorang tentara wanita lain yang bertugas di unit intelijen militer Israel ditemukan tewas bunuh diri di pangkalan militer Glilot, dekat Ramat Hasharon di Israel tengah. Korban diketahui memegang posisi dengan klasifikasi kerahasiaan tinggi.
Militer Israel melalui Polisi Militer telah membuka penyelidikan resmi untuk mengungkap latar belakang kedua peristiwa tragis tersebut. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada rincian lebih lanjut mengenai motif atau keadaan yang melatarbelakangi tindakan nekat kedua prajurit wanita itu.
Data yang dihimpun Haaretz menunjukkan bahwa jumlah prajurit aktif yang bunuh diri sejak Januari lalu kini mencapai 16 orang. Angka ini belum termasuk sembilan prajurit lain, baik dari kalangan reguler maupun cadangan yang pernah bertugas dalam perang, yang juga mengakhiri hidup mereka saat sedang tidak bertugas.
Kekhawatiran atas meningkatnya angka bunuh diri di kalangan tentara Israel sebenarnya sudah muncul sejak tahun lalu. Haaretz melaporkan bahwa pada 2025, tercatat 22 prajurit aktif bunuh diri, angka tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Lonjakan ini diduga kuat terkait dengan tekanan psikologis akibat perang berkepanjangan di Jalur Gaza.
Para pengamat menilai bahwa operasi militer yang panjang dan intensif, ditambah dengan korban jiwa yang terus berjatuhan di pihak Israel, memberi dampak serius terhadap kondisi mental para prajurit. Tekanan tempur, kehilangan rekan, serta ketidakpastian situasi keamanan menjadi faktor yang paling sering disebut dalam berbagai analisis.
Meskipun militer Israel menyediakan layanan kesehatan mental, angka kasus bunuh diri yang terus meningkat menunjukkan bahwa upaya tersebut belum cukup efektif. Banyak pihak mendesak pemerintah dan komando militer untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem dukungan psikologis bagi prajurit di garis depan.