Kabayan News Kabayan News
/home / ekonomi / Desainer Singapura Sulap Sampah Jadi...
EKONOMI

Desainer Singapura Sulap Sampah Jadi Karya, dari Kulit Jeruk hingga Kaca

By Bambang Prasetyo • 5 min read • 31 Juli 2026
Desainer Liu Tingzhi dengan papan daur ulang tekstil karyanya di sudut keberlanjutan Castlery Singapura

Desainer Liu Tingzhi dengan papan daur ulang tekstil karyanya di sudut keberlanjutan Castlery Singapura

Liu Tingzhi, desainer asal Singapura, mengubah sampah menjadi karya seni fungsional. Lewat studio Wastd yang didirikan pada 2024, ia mengolah limbah tekstil, pecahan kaca, kulit jeruk, hingga batang serai menjadi meja, dinding, hingga aksesori dekoratif. "Segala yang Anda lihat di etalase itu berasal dari barang yang nyaris masuk tong sampah," ujar Liu soal kolaborasinya dengan The Paper Bunny.

Kiprah Liu di dunia fashion memberinya perspektif unik soal limbah tekstil. Ia sempat bekerja di Dior, Celine, dan Alexander McQueen, serta memimpin strategi produk di Love, Bonito. Pengalaman itu membuatnya sadar betapa besar volume potongan kain terbuang, yang kemudian mendorongnya mendalami material daur ulang tiga tahun sebelum Wastd berdiri.

Proses kreatif Wastd dimulai dari bahan baku limbah itu sendiri. Misalnya, papan dari serat tekstil daur ulang yang diluncurkan Maret 2026. Limbah kain dihancurkan, dicampur pengikat aktif panas, lalu dikompresi menjadi papan padat dan tahan lama. "Prosesnya mirip membuat kue," kata Liu. Papan ini bisa dipotong dan difinishing seperti kayu atau batu.

Salah satu proyek besar Wastd adalah meja untuk Roberta's Pizza di Mandai dan dinding di sudut keberlanjutan Castlery di Liat Towers. Setiap proyek membutuhkan waktu lama karena ada proses sampling, pengujian, dan penyempurnaan berulang. "Tujuannya bukan hanya fungsional, tapi juga menarik secara visual," jelas Liu.

Liu bekerja dengan mitra daur ulang seperti Semula untuk plastik, Blio untuk kaca, dan Terramura untuk biotekstil. Ia percaya kolaborasi lintas disiplin adalah kunci. "Ilmuwan, insinyur, desainer, dan pembuat material sering bekerja sendiri. Sihir terjadi saat disiplin itu bertemu," ujarnya.

Salah satu ambisi terbesar Liu adalah Bildable by Wastd, platform daring yang memungkinkan siapa pun merancang material dari sampah. "Bahkan desainer yang belum siap proyek daur ulang penuh tetap bisa akses material berkelanjutan," katanya. Ia juga mengembangkan produk in-house seperti Do-All Serving Platter dari plastik daur ulang dan Egg Vase dari limbah kaca.

Liu mengaku tantangan terbesar adalah kurangnya dukungan praktis di area strategi komersial, penetapan harga, dan kontrak. "Dukungan kuat saja tidak cukup. Tujuan harus dibarengi dengan penawaran jelas, pelanggan terdefinisi, dan struktur harga yang layak," jelasnya. Ia juga berharap klien berani mengambil risiko dengan berinovasi.

Di akhir 2025, Liu meluncurkan Not a Waste, ajang penghargaan yang merayakan kegagalan dan eksperimen. Trofi dibuat dari sisa bahan percobaan sepanjang tahun. "Kami ingin merayakan momen hening, pembelajaran, dan eksperimen yang sering tak diakui," kata Liu. Baginya, kesalahan adalah bagian penting dari proses.

Liu bercita-cita menjadikan Wastd sebagai ekosistem bangunan lengkap dengan ruang pamer yang menampilkan material, ide, dan objek masa depan. "Kami berharap Wastd menjadi tempat orang berpaling saat mereka percaya dunia bisa dibangun lebih baik, dengan lebih sedikit ekstraksi, lebih banyak imajinasi," pungkasnya.

Topics
liu tingzhi wastd desain berkelanjutan daur ulang sampah singapura circular design furnitur ramah lingkungan tekstil daur ulang limbah makanan ekonomi sirkular
Jurnalis Politik & Ekonomi Senior

Bambang telah menghabiskan dua dekade terakhir meliput dunia politik dan ekonomi Indonesia. Dari gedung DPR hingga Istana Negara, ia telah menyaksikan dan melaporkan peristiwa-peristiwa penting yang membentuk negeri ini. Tulisannya tajam, mendalam, dan selalu mengedepankan fakta serta analisis yang jernih bagi pembaca Kabayan News.