Gourav Roy, seorang insinyur perangkat lunak asal India yang tinggal di San Francisco, menempuh perjalanan lebih dari 9.650 kilometer melintasi Amerika Serikat untuk menyaksikan semifinal dan final Piala Dunia 2026. Baginya, itu adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan selain mimpi masa kecilnya: melihat India bermain di Piala Dunia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Namun, kemungkinan mimpi itu menjadi kenyataan tampak semakin jauh. Masalah sistemik yang mengakar dan kegagalan menerapkan reformasi membuat negara dengan 1,45 miliar penduduk ini terperosok di peringkat 138 dunia dan bahkan gagal lolos ke Piala Asia 2027. "Saya belajar mencintai tanpa harapan. Itulah beban penggemar sepak bola India," ujar Roy.
Sementara negara-negara dengan populasi kecil seperti Curacao dan Cape Verde lolos ke Piala Dunia 2026, India justru menjadi contoh nyata potensi yang terbuang di olahraga paling populer di dunia. Mereka yang berkecimpung di sepak bola India mengatakan masalahnya beragam, mulai dari sistem pembinaan usia muda yang buruk, kurangnya popularitas, hingga federasi nasional (AIFF) yang kesulitan menerapkan visi terpadu dengan asosiasi negara bagian yang longgar.
Ravi Puskur, CEO klub ISL FC Goa, mengatakan kepada Reuters bahwa membersihkan dan menata ulang sistem akan memakan waktu setidaknya satu siklus penuh empat tahun. "Lalu butuh 20-25 tahun lagi untuk membawa kami ke Piala Dunia," katanya. Di India yang tergila-gila kriket, sepak bola hanya populer di segelintir negara bagian seperti West Bengal, Goa, Kerala, Mizoram, dan Manipur.
Liga Super India (ISL) yang diluncurkan pada 2014 dengan dukungan Reliance Industries, salah satu konglomerat terbesar India, berusaha mengubah situasi namun hasilnya terbatas. Pada 2025, AIFF dan Reliance tidak memperbarui kemitraan mereka karena negosiasi macet di tengah kasus Mahkamah Agung untuk menerapkan konstitusi baru bagi federasi. Tahun ini, di bawah manajemen baru yang dipimpin klub, ISL belum menetapkan penyiar dan mengumumkan jadwal pertandingan.
Mandar Tamhane, CEO NorthEast United yang sebelumnya memimpin Bengaluru FC, mengatakan klub saja tidak bisa memperbaiki sepak bola India. "Anda berbicara tentang pemerintah, korporasi India... ini harus menjadi upaya kolektif," ujarnya. "Federasi harus memastikan klub, asosiasi negara bagian, korporasi, dan pemangku kepentingan lainnya bekerja sama."
Anggota komite eksekutif AIFF sekaligus menteri olahraga Mizoram, Lalnghinglova Hmar, mengatakan pemerintah dapat membantu infrastruktur, tetapi untuk meningkatkan sepak bola India, sistem pembinaan usia muda perlu perombakan besar-besaran. "Di Korea Selatan dan Jepang, anak-anak bermain lebih dari 40 pertandingan kompetitif per musim. Ini hilang di India," jelasnya.
Hmar menambahkan bahwa India mulai mengembangkan pemain terlalu lambat. Sebagian besar pemain di bawah 15 tahun hanya mendapat 12 hingga 15 pertandingan kompetitif setiap tahunnya, bahkan beberapa dipanggil ke kamp nasional muda setelah bermain kurang dari 20 pertandingan kompetitif. "Kami kekurangan pelatih berkualitas. Banyak negara bagian bahkan tidak punya liga pemuda... kami tidak bisa bersaing seperti itu," tegasnya.
Ukuran India yang menjadi daya tarik pasar olahraga dan kesuksesan besar IPL kriket juga menyulitkan AIFF menerapkan reformasi luas. Ketidakpastian atas ISL yang memaksa beberapa tim menangguhkan gaji pemain tahun lalu juga menjadi pukulan bagi program pengembangan klub. Puskur menambahkan, "Jika Anda bisa memberikan stabilitas, secara bertahap investasi akan meningkat."
Dengan India mengajukan tawaran menjadi tuan rumah Olimpiade 2036, pemerintah mempertimbangkan peluncuran "paspor olahraga" yang memungkinkan atlet keturunan India membela negara. Kepemimpinan AIFF mendukung inisiatif tersebut, tetapi proposal itu masih jauh dari menjadi undang-undang. Hmar mengatakan sepak bola India harus bertindak cepat, "Negara-negara lain tidak tinggal diam... jika kita tidak menyamai mereka, bahkan jika kita meningkat, kita akan tetap di tempat yang sama."
Sementara sepak bola India menggantung di ketidakpastian, penggemar seperti Roy hanya bisa hidup dalam harapan. "Mereka membicarakan Piala Dunia 64 tim," katanya. "Itu tidak akan memberi kita apa pun, tetapi lebih banyak tempat berarti lebih banyak harapan."