Maraknya peredaran tautan palsu atau link hoaks pendaftaran seleksi lowongan kerja kini menjadi ancaman serius bagi para pencari kerja di dunia maya. Berdasarkan laporan Liputan6.com, modus kejahatan siber ini kerap memanfaatkan nama instansi atau perusahaan besar untuk menjebak korban melalui janji-janji manis yang berujung pada pencurian data pribadi dan kerugian finansial.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Penyebaran informasi lowongan kerja palsu tersebut umumnya dilakukan melalui kanal komunikasi tidak resmi seperti aplikasi perpesanan WhatsApp, Telegram, maupun unggahan di berbagai platform media sosial. Para pelaku kejahatan biasanya menggunakan taktik psikologis, mulai dari penawaran gaji yang tidak realistis hingga proses rekrutmen kilat yang terkesan mendesak agar korban tidak memiliki waktu untuk berpikir panjang.
Dari analisis tim redaksi, pola penipuan semacam ini sering kali mengarahkan pengguna ke situs web gratisan atau domain tidak resmi yang meminta pengisian formulir digital berisi data sensitif seperti nomor KTP hingga akun perpesanan pribadi. Contoh kasus yang sempat mencuat di antaranya adalah klaim palsu seleksi calon anggota BPKN RI periode 2027-2030 serta rekrutmen fiktif untuk posisi di BAZNAS.
Mengutip imbauan dari lembaga pemeriksa fakta, pencari kerja disarankan untuk selalu memverifikasi setiap informasi lowongan kerja melalui situs resmi instansi terkait dan menghindari tautan mencurigakan yang dibagikan secara bebas. Masyarakat juga diminta untuk meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak oleh jebakan phising yang mengatasnamakan program resmi pemerintah.