Dunia maya kembali dihebohkan dengan berbagai informasi menyesatkan yang mencatut nama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Berdasarkan penelusuran mendalam dari awak media, tokoh publik ini kerap menjadi sasaran empuk oknum tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan berita bohong atau hoaks di berbagai platform media sosial.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan terbaru yang beredar di Facebook pada akhir Juni 2026, muncul sebuah klaim yang menyebutkan bahwa Dedi Mulyadi sedang terbaring lemah karena jatuh sakit. Unggahan tersebut menampilkan foto sang gubernur di atas ranjang rumah sakit lengkap dengan selang infus serta baju pasien bercorak batik cokelat.
Namun, dari hasil analisis dan verifikasi fakta, foto tersebut ternyata merupakan peristiwa lama yang sama sekali tidak terkait dengan kondisi kesehatannya saat ini. Mengutip laporan resmi, potret itu diabadikan ketika Dedi Mulyadi menjalani prosedur medis Digital Subtraction Angiography (DSA) di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto yang ditangani langsung oleh Letnan Jenderal TNI (Purn) Terawan Agus Putranto pada Rabu, 26 Januari 2022.
Selain isu kesehatan, marak pula modus penipuan berkedok kuis berhadiah ratusan juta rupiah yang mencatut nama sang gubernur. Dalam narasi palsu yang diunggah pada Mei 2026 tersebut, para pelaku menjanjikan hadiah uang tunai bagi masyarakat yang berhasil menebak pertanyaan kuis, lengkap dengan tautan mencurigakan untuk meraup data pribadi korban.
Tidak berhenti di situ, pengamat media sosial juga menemukan adanya modus operandi lain berupa program tebus motor murah seharga Rp400 ribu yang diklaim langsung oleh Dedi Mulyadi. Melalui video rekayasa yang beredar pada April 2026, para penipu menawarkan kendaraan bermotor bebas cicilan dan meminta korban menghubungi nomor WhatsApp tertentu.
Tim redaksi mengimbau masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan serta melakukan saring sebelum membagikan informasi apapun di internet. Maraknya disinformasi ini menunjukkan pentingnya literasi digital agar publik tidak mudah terkecoh oleh berbagai modus penipuan daring yang mengatasnamakan pejabat publik.