Insiden keamanan siber telah menjadi tantangan nyata bagi lanskap bisnis di Inggris. Berbagai gangguan yang memukul sektor manufaktur dan logistik sepanjang tahun lalu memperlihatkan betapa rentannya organisasi ketika operasional fisik mereka mulai terhubung dengan jaringan digital.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Meski kesadaran taktik siber meningkat, diskusi di ruang rapat direksi sayangnya masih sering berpusat pada IT perusahaan dan mengabaikan Teknologi Operasional atau Operational Technology (OT). Padahal, sistem OT yang mengoperasikan pabrik, mengelola rantai pasok, dan menopang layanan esensial kini menjadi target utama para peretas.
Bagi sebagian besar dewan direksi, masalah ini muncul karena sudut pandang yang keliru. Risiko siber masih sering dipahami sebatas kebocoran data atau serangan malware pada situs web. Padahal, gangguan pada operasional fisik memiliki skala dampak yang jauh lebih merusak dan membutuhkan perhatian tata kelola yang berbeda.
Banyak infrastruktur operasional saat ini dirancang jauh sebelum era akses jarak jauh berkembang, sehingga fokusnya hanya pada keandalan dan keselamatan, bukan pertahanan siber. Ketika sistem ini digitalisasi, risiko kegagalan pun melonjak. Contoh nyata terjadi pada sektor air di Inggris pada 2024, di mana serangan siber menyasar sistem kontrol operasional yang mengancam distribusi air bersih.
Menghadapi situasi ini, keamanan teknologi operasional tidak bisa lagi dianggap sebagai ceruk teknis semata. Dewan direksi harus mulai meminta pertanggungjawaban yang jelas, memahami risiko geopolitik, dan memastikan investasi keamanan siber mampu melindungi kontinuitas bisnis serta reputasi perusahaan.