Kota Dover di pesisir selatan Inggris kembali menjadi sorotan. Para influencer dan politisi sayap kanan terus mengklaim bahwa kota ini sedang mengalami "invasi" imigran melalui kapal-kapal kecil yang menyeberang dari Perancis. Namun, warga setempat memiliki cerita yang berbeda.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Shadow Home Secretary Chris Philp baru-baru ini melakukan aksi naik perahu nelayan untuk "mengungkap krisis small boats". Ia mengklaim mendapat tembakan peringatan dari otoritas Perancis. Pemerintah Perancis membantah keras dan menyebut Philp hanya melewati latihan rutin yang melibatkan tembakan langsung.
Di tengah hangatnya musim panas, pantai berkerikil Dover justru dipenuhi wisatawan yang berjemur dan anak-anak bermain air. Suasana itu sangat bertolak belakang dengan gambaran "zona perang" yang kerap ditampilkan para pembuat konten.
Alison Drake, warga Dover, mengaku prihatin dengan pemberitaan berlebihan. "Mereka menggunakan Dover sedikit-sedikit. Orang-orang membuat video itu sebenarnya tidak terlalu berguna," ujarnya kepada media.
Razia Shariff dari Kent Refugee Action Network (Kran) menilai aksi para influencer justru menciptakan ketakutan yang tidak perlu. "Yang mereka coba lakukan adalah bermain dengan rasa takur melalui semua aksi panggung ini," kata Shariff.
Kran adalah organisasi yang membantu pendidikan bagi pengungsi muda. Shariff menceritakan salah satu mantan anak asuhnya yang kini bekerja sebagai perawat di rumah sakit lokal, setelah tiba di Inggris sebagai pengungsi anak-anak.
Tak semua warga sepakat. Tom Armstrong justru mendukung aksi para influencer karena dianggap memberitahu publik bahwa Perancis tidak melakukan apa pun. "Kita harus tahu kebenarannya," ujar Armstrong yang mengaku anti-imigrasi.
Carol, warga lain yang enggan disebut nama lengkapnya, menilai fokus pada organisasi seperti Kran lebih bermanfaat daripada aksi politisi seperti Philp atau Nigel Farage. Ia berdiri di lokasi yang sama dengan Farage saat pemimpin Reform UK itu menyebut Dover sebagai "garis depan debat imigrasi nasional" pada 2024.
"Menurut saya tidak adil jika Dover diberi label seperti itu. Karena Anda bisa duduk di pantai, menikmati area ini," kata Carol sambil menunjuk ke arah pantai yang ramai pengunjung.
Carol khawatir citra negatif yang terus digembar-gemborkan akan merusak pariwisata Dover. "Kota ini agak kumuh seperti banyak kota lain. Tapi tepi lautnya indah, pedesaan di sekitarnya juga indah. Saya yakin pemberitaan itu tidak membantu," keluhnya.
Philp sendiri pernah menjadi Menteri Imigrasi pada awal 2020-an, di mana jumlah penyeberangan justru meningkat tajam di masa jabatannya. Kritik muncul karena ia dinilai lebih sibuk membuat konten daripada menyelesaikan masalah.
Sementara itu, organisasi seperti Kran terus bekerja membantu para pengungsi muda beradaptasi. Mereka mengadakan program musim panas di sebuah akademi di Kent pekan ini. "Mereka menjalani hidup dan berusaha," kata Shariff tentang anak-anak asuhnya.
Warga Dover berharap kota mereka tidak terus dijadikan alat politik. "Semua orang tahu tentang ini, sudah saatnya mereka melakukan sesuatu. Mereka tidak melakukan apa pun," ujar Drake dengan nada frustrasi.
Hingga kini, gelombang influencer dan politisi sayap kanan masih terus berdatangan ke Dover. Namun warga setempat tampaknya sudah lelah menjadi aktor dalam drama yang mereka nilai tidak mencerminkan kenyataan.