Kabar menggembirakan berhembus bagi para petani tebu di Malang, Jawa Timur. Saat menghadiri panen raya dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional pada 17 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto menerima laporan bahwa petani tebu kini tak lagi meringis akibat anjloknya harga tetes tebu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Laporan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Ia menjelaskan bahwa harga produk sampingan pengolahan tebu yang bisa diolah menjadi etanol tersebut perlahan membaik semenjak pemerintah menerapkan aturan ketat terkait pembatasan impor etanol.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan tahun lalu ketika harga tetes tebu mengalami kejatuhan drastis. Pada awal musim giling Mei 2025, harga masih bertahan di angka Rp1.600 per kg. Namun, menjelang akhir giling pada Oktober hingga November 2025, nilainya terjun bebas ke kisaran Rp1.000 bahkan menyentuh Rp700 per kg.
Padahal, pada tahun 2024 lalu, petani masih bisa menikmati harga tetes tebu di kisaran Rp2.500 hingga Rp3.000 per kg. Penurunan tajam ini dirasakan sangat memukul pendapatan para petani tebu di berbagai daerah.
Sekretaris Jenderal DPN Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M Nur Khabsyin mengungkapkan bahwa anjloknya harga tersebut dipicu oleh maraknya serbuan impor etanol tanpa adanya batasan kuota yang jelas di pasar domestik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor tetes Indonesia pada 2025 memang mencatatkan angka 37,92 ribu ton dan impor etanol sebesar 2.577 ton. Meski angka tersebut lebih rendah dibanding impor 2024 yang mencapai 50,49 ribu ton tetes dan 10.415 ton etanol, dampaknya tetap terasa signifikan di dalam negeri.
Di sisi lain, kinerja ekspor Indonesia sebenarnya menunjukkan peningkatan. Ekspor tetes tebu pada 2025 berhasil mencapai 742 ribu ton dan etanol sebesar 47 ribu ton, melampaui capaian ekspor 2024 sebesar 495 ribu ton tetes dan 39,7 ribu ton etanol.
Selain faktor pengetatan impor domestik, tekanan harga pada 2025 lalu juga dipengaruhi melimpahnya produksi tetes di negara-negara eksportir seperti Thailand, India, dan Filipina. Ketika penyerapan industri melambat, kelebihan stok regional membanjiri pasar dan menekan harga hingga titik terendah.