Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan atau KSOP Utama Tanjung Priok menyatakan dukungannya terhadap langkah transformasi operasional yang dilakukan PT Jakarta International Container Terminal atau JICT menuju konsep green port. Dukungan penuh ini diwujudkan melalui pemanfaatan peralatan pelabuhan modern yang berbasis listrik guna menciptakan operasional pelabuhan yang lebih ramah lingkungan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Bentuk dukungan tersebut ditunjukkan secara langsung melalui kunjungan kerja yang dilakukan oleh Kepala KSOP Utama Tanjung Priok Heru Susanto bersama Director Operations and Engineering JICT Doni Budiono. Bersama delegasi JICT lainnya, mereka mendatangi SANY Port Machinery Industrial Park yang berlokasi di Zhuhai, Provinsi Guangdong, Tiongkok.
Kunjungan strategis ini merupakan bagian dari rangkaian proses technical due diligence, factory acceptance test atau FAT, serta evaluasi kesiapan manufaktur. Seluruh tahapan tersebut dilakukan dalam rangka rencana pengadaan lima unit Electric Rubber Tyred Gantry Crane atau Electric RTGC dan 10 unit Electric Terminal Truck yang akan memperkuat armada JICT.
Kehadiran armada baru bertenaga listrik ini diproyeksikan dapat memperkuat transformasi operasional JICT menuju terminal peti kemas yang tidak hanya lebih efisien, tetapi juga menghasilkan emisi yang jauh lebih rendah dan berbasis teknologi tinggi. Langkah ini juga sejalan dengan komitmen sektor kepelabuhanan dalam mendukung pelestarian lingkungan hidup.
Kepala KSOP Utama Tanjung Priok Heru Susanto menegaskan bahwa transformasi pelabuhan di tanah air harus mampu menjawab tantangan peningkatan arus logistik nasional sekaligus memenuhi tuntutan keberlanjutan lingkungan. "Kami memandang inisiatif JICT dalam mengadopsi teknologi berbasis listrik sebagai langkah positif yang sejalan dengan arah modernisasi sektor kepelabuhanan nasional," ujar Heru di Tiongkok, Selasa (28/7/2026).
Ia juga menambahkan bahwa peran utama pihak regulator adalah memastikan setiap proses transformasi tersebut tetap memenuhi aspek keselamatan, kepatuhan regulasi, dan tata kelola yang baik. Dengan demikian, peningkatan kualitas pelayanan dapat tercapai secara beriringan dengan upaya mendukung daya saing logistik Indonesia di kancah internasional.
Menurut Heru, sinergi yang kuat antara regulator pemerintah, operator pelabuhan, serta penyedia teknologi menjadi faktor kunci yang sangat penting. Kolaborasi ini diyakini mampu mempercepat proses transformasi pelabuhan di Indonesia agar semakin siap bersaing secara kompetitif baik di tingkat regional maupun global.