Pemandangan mencengangkan berupa "pulau sampah" di pesisir Jakarta Utara akhirnya menemui titik terang setelah kerja keras berbagai pihak membuahkan hasil. Fenomena gundukan limbah yang sempat menghebohkan jagat maya tersebut berhasil dibersihkan secara total setelah mendapatkan penanganan intensif selama tiga hari berturut-turut di kawasan Muara Adem, Muara Angke, Penjaringan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa gundukan limbah yang menyerupai daratan kecil itu terbentuk akibat akumulasi sampah yang terbawa arus laut serta proses sedimentasi yang terjadi cukup lama. "Sedangkan yang di Muara Angke yang kemudian terjadi pulau sampah karena sedimentasi," ujar Pramono saat memberikan keterangan pers kepada awak media di Balai Kota DKI Jakarta pada Jumat.
Berdasarkan analisis tim redaksi, kemunculan fenomena ekstrem ini mencerminkan kompleksitas tata kelola sampah di wilayah pesisir ibu kota yang dipicu oleh kombinasi arus laut dan kebiasaan buruk pembuangan limbah sembarangan. Hamparan kotoran yang berada sekitar 600 hingga 700 meter dari daratan tersebut tidak terbentuk dalam waktu singkat, melainkan akumulasi bertahun-tahun yang sangat merugikan aktivitas para nelayan lokal karena merusak baling-baling kapal.
Proses pembersihan melibatkan sekitar 70 personel gabungan dari berbagai instansi, termasuk Unit Penanganan Sampah Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Sudin Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu, Satpel Lingkungan Hidup Penjaringan, serta unsur Polairud Polda Metro Jaya. Petugas harus bekerja ekstra keras membersihkan tumpukan limbah secara manual sebelum akhirnya diangkut menggunakan kapal khusus sampah.
Mengutip laporan resmi dari instansi terkait, kegiatan pembersihan kolaboratif ini merupakan respons cepat atas aduan masyarakat yang ramai diperbincangkan di media sosial. Pihak berwenang menegaskan bahwa kawasan pesisir dan area sedimen sangat rentan menjadi perangkap sampah kiriman, sehingga membutuhkan kesadaran kolektif serta pengawasan ketat agar ekosistem laut Jakarta tetap terjaga dari ancaman kerusakan lingkungan yang lebih parah.