Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Tahta Raja Kecil dan Ilusi...
BERITA

Tahta Raja Kecil dan Ilusi Kekuasaan, Menatap Aporia Korupsi di Daerah

By Redaksi Kabayan News • 3 min read • 2026-07-22
Ilustrasi penegakan hukum dan kasus korupsi kepala daerah di Indonesia

Ilustrasi penegakan hukum dan kasus korupsi kepala daerah di Indonesia

Sebagaimana diwartakan, Komisi Pemberantasan Korupsi belum lama ini menetapkan Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap dan pengaturan proyek. Berdasarkan temuan penyidik, total penerimaan yang diduga mengalir ke kantong sang kepala daerah mencapai belasan miliar rupiah dalam rupa uang tunai hingga barang mewah seperti mobil mewah dan sepatu bermerek. Kasus ini sontak menarik perhatian publik luas dan memicu perdebatan panjang mengenai integritas para pemimpin di daerah.

Menanggapi fenomena tersebut, Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia Boyamin Saiman melontarkan sentilan keras. Menurut dia, perilaku lancung para kepala daerah kerap didasari oleh mentalitas merasa diri sebagai raja kecil. Sentuhan fasilitas negara berupa rumah dinas, protokoler, hingga ajudan membuat mereka merasa mengalami kenaikan derajat yang berlebihan. Dari sini kemudian muncul anggapan bahwa mereka berhak untuk meminta serta mengambil apa saja dari jabatan yang diemban.

Berdasarkan laporan MAKI, keserakahan personal menduduki peringkat pertama sebagai pemicu utama korupsi di kalangan pejabat daerah. Urutan berikutnya disusul oleh kebutuhan untuk mengembalikan modal, sementara biaya politik yang tinggi berada di posisi ketiga. Narasi penegakan hukum kemudian hadir dengan keyakinan bahwa korupsi adalah anomali moral yang bisa dibersihkan sepenuhnya melalui penangkapan dan penghukuman yang tegas.

Namun demikian, pembacaan yang lebih dalam menghadirkan sebuah jalan buntu logis atau aporia yang pelik. Barang-barang mewah seperti mobil dan sepatu mahal, atau bahkan hewan kurban yang diterima para pejabat, sebenarnya bukan sekadar wujud keserakahan belaka. Dalam perspektif dekonstruktif, benda-benda tersebut berfungsi sebagai suplemen yang melengkapi sekaligus menutup kekosongan esensial dalam struktur kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan sang bupati ternyata tidak hadir secara penuh tanpa topangan benda-benda konsumtif tersebut.

Di sisi lain, jeritan rakyat kecil yang kesulitan mendapatkan akses air bersih di wilayah tersebut seolah teredam oleh hiruk-pikuk drama penegakan hukum. Suara-suara marginal ini menyisakan jejak ketidakhadiran keadilan yang sejati di tengah masyarakat. Ketika hukum berupaya membersihkan tubuh birokrasi, hukum itu sendiri berdiri di dalam jaring-jaring kekuasaan yang sama, sehingga melahirkan pertanyaan mendasar tentang kemurnian keadilan itu sendiri.

Pada akhirnya, usaha untuk mensterilkan panggung politik dari segala bentuk penyelewengan seakan menemui jalan buntu yang abadi. Makna keadilan terus-menerus tertunda di dalam labirin birokrasi dan kepentingan yang tidak pernah benar-benar steril. Ruang diskusi tetap terbuka tanpa ada resolusi yang menutupnya, menyisakan perenungan sunyi tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan tanpa harus mengorbankan mereka yang berada di pinggiran.

Topics
kpk bupati lombok barat korupsi maki politik uang hukum opini filosofi
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.