Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) belakangan ini kerap menjadi sasaran empuk penyebaran berita bohong atau hoaks yang masif beredar di berbagai platform media sosial maupun aplikasi percakapan. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, fenomena ini menunjukkan bagaimana disinformasi sengaja diciptakan untuk menciptakan opini publik yang menyesatkan dengan memanfaatkan kredibilitas lembaga mahasiswa.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Salah satu temuan Tim Cek Fakta Liputan6.com mengungkap adanya unggahan artikel hoaks di Facebook pada awal Februari 2026 yang mengeklaim bahwa mahasiswa BEM seluruh Indonesia sepakat menolak Anies Baswedan dan partai gerakan rakyat. Unggahan tersebut menampilkan tangkapan layar palsu dari Antara Foto guna meyakinkan pembaca, padahal narasi tersebut sama sekali tidak pernah terjadi.
Tidak berhenti di situ, disinformasi serupa juga menyasar figur publik dan partai politik lainnya. Pada periode yang sama, beredar pula klaim hoaks yang menyatakan mahasiswa BEM seluruh Indonesia sepakat menolak Jokowi dan PSI. Menanggapi hal ini, awak media menegaskan bahwa tangkapan layar artikel berita yang disebarkan oleh oknum tidak bertanggung jawab tersebut merupakan hasil rekayasa digital.
Kasus hoaks berikutnya yang berhasil diungkap terjadi pada akhir Juni 2026, di mana sebuah akun di Facebook mengunggah narasi bahwa Ketua BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) membuat pernyataan untuk menolak PSI dan Jokowi di daerah provinsi masing-masing. Berdasarkan verifikasi mendalam, informasi tersebut dipastikan palsu dan bertujuan untuk menggiring opini masyarakat luas.
Menurut analisis awak media, maraknya hoaks yang mencatut nama gerakan mahasiswa merupakan bentuk pembodohan publik yang berbahaya bagi ekosistem informasi digital. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu waspada, melakukan verifikasi mandiri, dan tidak mudah percaya terhadap informasi sensasional yang beredar di dunia maya.