Pasar perumahan di kawasan Seattle, Amerika Serikat, mengalami pergeseran drastis setelah bertahun-tahun melambung tinggi. Berdasarkan data terbaru, wilayah ini kini tercatat sebagai salah satu pasar properti paling lesu di negeri Paman Sam akibat kombinasi lonjakan inventaris rumah dan penurunan penjualan yang cukup signifikan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Harga rumah di Seattle tercatat mengalami penurunan sekitar 1,8 persen pada Mei lalu dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikannya penurunan terdalam kedua di antara kota-kota besar di AS. Di sisi lain, tingkat persediaan rumah melonjak hingga dua digit, sementara angka penjualan justru merosot tajam sebesar 6,4 persen secara tahunan.
Kendati penjualan mengalami koreksi, harga properti di kota berjuluk Emerald City ini masih terpantau sangat tinggi. Harga median rumah di wilayah tersebut bahkan menyentuh angka USD 738.000 pada Juni lalu, dengan beberapa kantong area seperti rumah tapak di kawasan utara masih diselimuti persaingan ketat.
Menurut Lee Pham, seorang broker di Keller Williams Realty Greater Seattle, kondisi pasar saat ini sangat bervariatif tergantung pada lokasi dan jenis propertinya. "Dua pembeli yang mencari rumah di Seattle saat ini bisa mendapatkan pengalaman yang sepenuhnya berbeda tergantung lingkungan, titik harga, dan jenis properti," ujarnya.
Faktor utama di balik pelemahan ini adalah gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK di perusahaan-perusahaan teknologi besar yang mendominasi kawasan tersebut. Industri teknologi di Seattle tengah gencar melakukan efisiensi dan beralih ke kecerdasan buatan, yang membuat tingkat pengangguran lokal naik hingga sekitar 5 persen.
Selain faktor PHK, lonjakan pasokan dari proyek konstruksi baru turut membanjiri pasar properti Seattle dalam beberapa tahun terakhir. Pembangunan hunian baru ini bahkan melampaui kota-kota besar lain di Pantai Barat seperti San Francisco, Portland, dan Los Angeles jika dihitung secara per kapita.
Meskipun harga rata-rata menunjukkan tren penurunan, keterjangkauan tetap menjadi batu sandungan utama bagi para calon pembeli rumah pertama. Harga median rumah saat ini masih berada di kisaran 20 persen lebih tinggi dibandingkan level sebelum pandemi, membuat anggaran di bawah USD 600.000 umumnya hanya cukup untuk membeli kondominium atau townhome.
Bagi sebagian pembeli seperti Ivy Jacobs dan suaminya, proses mencari rumah di tengah kondisi pasar yang dinamis membutuhkan strategi cepat. Setelah sempat kalah bersaing dengan investor tunai, mereka akhirnya berhasil mengamankan rumah tua tahun 1919 di kawasan West Seattle dan langsung melakukan renovasi agar bisa segera ditempati.
Secara keseluruhan, dinamika pasar properti Seattle saat ini mencerminkan transisi yang unik di tengah tekanan ekonomi sektor teknologi. Walaupun pilihan properti semakin melimpah bagi para pencari hunian, tantangan besar terkait harga yang tetap tinggi masih menjadi realitas yang harus dihadapi oleh masyarakat setempat.