Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Iran secara terbuka menuding Amerika Serikat berupaya memaksa pembukaan rute baru melalui Selat Hormuz tanpa melibatkan otoritas Iran. Langkah tersebut dinilai telah melanggar kesepakatan damai sementara yang telah disepakati oleh kedua negara sebelumnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Memorandum of Understanding (MoU) antara AS dan Iran yang ditandatangani pada Juni lalu memberikan hak penuh kepada Tehran untuk mengatur rute transit serta mekanisme di jalur perairan strategis tersebut. Araghchi menegaskan bahwa Washington seharusnya melakukan konsultasi terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan terkait rute baru.
Pernyataan keras tersebut disampaikan di tengah tanda-tanda meredanya ketegangan militer setelah kedua belah pihak sempat saling serang selama beberapa pekan terakhir. Jurnalis Al Jazeera melaporkan bahwa tidak ada serangan langsung yang diluncurkan oleh AS terhadap kota-kota besar Iran pada malam hari, memberikan sedikit ketenangan bagi warga setempat.
Di sisi lain, Presiden AS menyampaikan bahwa komunikasi antara kedua negara masih berlangsung dan membuka peluang untuk tercapainya kesepakatan baru. Pejabat Iran juga membenarkan adanya pertukaran pesan melalui mediator, meskipun proses negosiasi masih menemui jalan buntu akibat perbedaan prinsip yang mendasar serta rendahnya tingkat kepercayaan antar kedua pihak.
Perselisihan mengenai kendali atas Selat Hormuz menjadi inti dari ketegangan yang terjadi saat ini. Sementara Iran menuntut kapal-kapal untuk berkoordinasi dengan otoritasnya, militer Amerika Serikat justru memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mengklaim telah mengamankan sejumlah kapal yang mencoba menerobos blokade tersebut.
Konflik ini juga berdampak luas ke kawasan sekitar, termasuk keterlibatan kelompok Houthi di Yaman yang mengganggu jalur pelayaran di Bab al-Mandeb. Koalisi pimpinan Saudi bahkan melancarkan serangan udara ke wilayah Hodeidah menyusup ancaman terhadap pelayaran komersial, sementara sirine peringatan sempat berbunyi di wilayah Arab Saudi akibat ancaman serangan drone.