Iran dan Amerika Serikat memang telah kembali melakukan perundingan melalui mediasi serta menangguhkan aksi militer untuk sementara waktu. Kendati demikian, perang yang tengah berkecamuk terus memberikan dampak signifikan terhadap koridor maritim internasional di luar Selat Hormuz serta memperparah kondisi pasar domestik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Penutupan hampir total pada jalur air strategis tersebut, gangguan di Laut Merah oleh kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran, hingga serangan Ukraina terhadap kapal Iran di Laut Kaspia, semuanya menjaga tingkat ketegangan regional tetap berada di titik tertinggi.
Pemerintahan Iran kini harus menghadapi berbagai pilihan sulit, termasuk potensi kenaikan harga bahan bakar minyak di tengah tingginya ketidakpuasan sosial dan ekonomi, sementara militer AS kembali memberlakukan blokade laut di pelabuhan-pelabuhan selatan negara tersebut.
Kementerian Perminyakan Iran melaporkan bahwa negara tersebut telah menjual minyak mentah senilai 11,5 miliar dolar Amerika Serikat selama perang berlangsung, serta 6,5 miliar dolar selama periode nota kesepahaman dengan AS yang kini telah ditangguhkan.
Pembatasan ekspor minyak ini menambah beban pada masalah ekonomi domestik Iran yang sudah mengakar akibat isu struktural, salah urus, dan bertahun-tahun sanksi ekonomi yang keras. Selain itu, sekitar 230 juta meter kubik kapasitas produksi gas alam harian Iran hilang akibat pemboman militer.
Otoritas Iran juga tengah berjuang mengatasi ketidakseimbangan bahan bakar di tengah defisit bensin lebih dari 20 juta liter per hari yang dikelola melalui impor terbatas, pencampuran komponen bahan bakar, serta pengetatan kuota konsumsi bulanan.
Di tengah situasi yang kian pelik, eskalasi konflik yang semakin meluas dikhawatirkan tidak hanya merusak infrastruktur vital dalam negeri tetapi juga mempercepat peningkatan angka kemiskinan yang diproyeksikan melonjak tajam tahun ini.