Amerika Serikat (AS) dan Iran menghentikan aksi saling serang untuk hari kedua berturut-turut pada Minggu. Langkah ini terjadi saat Teheran menyatakan pembicaraan dengan Oman mengenai Selat Hormuz akan terus berlangsung di tengah upaya menghidupkan kembali negosiasi gencatan senjata sementara.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Sebelumnya, eskalasi konflik meningkat setelah AS menggempur wilayah pesisir dan infrastruktur Iran karena tuduhan penembakan kapal di Selat Hormuz. Meski Pentagon belum memberikan tanggapan resmi, Gedung Putih menegaskan bahwa Presiden Donald Trump tetap membuka opsi diplomatik maupun militer.
"Presiden Donald Trump selalu konsisten mengatakan bahwa ia lebih memilih solusi diplomatik, tetapi tetap membuka semua opsi jika Iran terus melakukan aktivitas teroris di Selat Hormuz atau terhadap sekutu-sekutu kami," ujar Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung.
Sementara itu, juru bicara militer Iran menyatakan bahwa negaranya turut menghentikan serangan menyusul langkah serupa dari pihak AS. Di sisi lain, seorang pejabat kawasan yang terlibat dalam proses mediasi menyebutkan bahwa jeda serangan ini menjadi sinyal positif untuk kembali memberlakukan gencatan senjata sementara.
Kompromi yang sedang dinegosiasikan berfokus pada mekanisme pengelolaan lalu lintas kapal di Selat Hormuz oleh Iran dengan pembatasan yang lebih longgar. Namun, isu utama terkait program nuklir Iran masih belum dibahas secara substansial oleh para mediator.
Ketegangan geopolitik ini turut berdampak pada lonjakan harga minyak Brent yang sempat menembus US$100 pada akhir pekan lalu. Di samping itu, Iran juga melanjutkan pembicaraan intensif dengan Oman guna memastikan keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut merespons perkembangan terbaru ini menjelang lawatannya ke Washington untuk menemui Donald Trump. Dalam wawancaranya, Netanyahu menyatakan dukungannya terhadap langkah diplomatik namun tetap memperingatkan adanya potensi balasan keras jika Iran kembali menyerang.