Sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu, konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah digambarkan sebagai pertempuran eksistensial bagi Tel Aviv maupun Teheran. Namun, pembacaan struktural yang tenang terhadap lima bulan pertempuran terakhir mengungkapkan sebuah paradoks yang mencolok, yaitu pihak yang memicu perang ini justru menjadi pihak yang paling sedikit terpapar kobaran apinya dan paling banyak memetik keuntungannya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Saat misil dan drone Iran menghujani infrastruktur penting di Teluk, serta konsumen Asia dan Arab menanggung tagihan akibat penutupan Selat Hormuz, pasar saham Tel Aviv justru terus mencetak rekor. Nilai tukar shekel terus menguat, dan industri pertahanan Israel mencatatkan angka pendapatan yang belum pernah terjadi sebelumnya di tengah situasi konflik.
Doktrin keamanan yang dibangun Iran selama empat dekade kini runtuh perlahan setelah serangan gencar yang dilancarkan. Jaringan proksi dan sekutu Teheran, mulai dari Hezbollah di Lebanon hingga Houthi di Yaman, menghadapi tekanan militer yang berat serta pembatasan aktivitas secara signifikan dari pemerintah setempat.
Di sisi lain, ekonomi domestik Israel tetap menunjukkan performa yang tangguh meskipun berada dalam bayang-bayang perang berkepanjangan. Bank Israel mencatat proyeksi pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, didorong oleh lonjakan ekspor pertahanan serta peningkatan produksi gas alam yang diekspor melalui Mesir.
Distribusi biaya perang yang tidak merata ini menjadi inti dari paradoks strategis di kawasan Timur Tengah saat ini. Pertanyaan besar mengenai apakah asimetri ini akan menjadi fondasi tatanan regional baru atau hanya bersifat sementara masih menjadi fokus utama dalam kunjungan para pemimpin negara terkait.