Gelaran final Piala Winners Cup ke-22 pada 12 Mei 1982 menyajikan drama yang tak terlupakan bagi publik Camp Nou. Bertindak sebagai tuan rumah, Barcelona berhasil menundukkan wakil Belgia, Standard Liege, dengan skor 2-1. Kemenangan ini sekaligus mengantarkan Blaugrana meraih gelar Eropa kedua mereka di kompetisi tersebut, tetapi kemenangan itu tidak lepas dari kontroversi yang menyelimuti gol kedua.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Barcelona unggul lebih dulu lewat Allan Simonsen sebelum akhirnya Quini mencetak gol kemenangan yang menjadi perdebatan. Gol tersebut tercipta dari situasi tendangan bebas yang dieksekusi dengan cepat oleh Quini. Yang menjadi masalah, eksekusi dilakukan sebelum wasit meniup peluit tandanya tendangan diizinkan. Namun, wasit tetap mensahkan gol tersebut, yang sontak memicu kemarahan pemain dan ofisial Standard Liege.
Keputusan wasit yang mengesahkan gol cepat Barcelona membuat emosi pemain Standard Liege meledak. Bek tengah andalan mereka, Walter Meeuws, harus menerima kartu kuning kedua sekaligus kartu merah di menit-menit akhir pertandingan setelah melakukan pelanggaran terhadap Lobo Carrasco. Kartu merah tersebut menjadi puncak kekecewaan tim Belgia yang merasa dirugikan sepanjang laga.
Meskipun dipenuhi protes dan ketidakpuasan dari kubu Standard Liege, hasil akhir tetap bertahan. Barcelona resmi menjadi juara di hadapan pendukungnya sendiri. Laga ini juga mencatat sejarah tersendiri sebagai final Piala Winners pertama yang menggunakan tiga hakim garis, sebuah terobosan baru dalam tata kelola pertandingan sepak bola Eropa kala itu.
Hingga saat ini, final 1982 masih sering dikenang sebagai salah satu laga terpanas dalam sejarah Piala Winners. Gol cepat Quini menjadi simbol dari ambiguitas aturan yang kerap mewarnai pertandingan-pertandingan besar, sekaligus menjadi pembelajaran bagi wasit dan pemain tentang pentingnya kepastian aturan di lapangan.