Kabayan News Kabayan News
/home / olahraga / Profil RSC Anderlecht, Raksasa Sepak...
OLAHRAGA

Profil RSC Anderlecht, Raksasa Sepak Bola Belgia dengan 34 Gelar Liga

By Redaksi Kabayan News • 5 min read • 2 Agustus 2026
Logo dan stadion Lotto Park milik RSC Anderlecht, klub raksasa sepak bola Belgia

Logo dan stadion Lotto Park milik RSC Anderlecht, klub raksasa sepak bola Belgia

Royal Sporting Club Anderlecht atau yang akrab disingkat RSC Anderlecht adalah salah satu raksasa sepak bola Belgia. Klub yang berbasis di Anderlecht, Brussels Capital-Region ini merupakan tim paling sukses di negeri Biru Merah dengan koleksi 34 gelar juara liga, 9 Piala Belgia, serta rekor lima gelar beruntun yang diraih antara 1964 hingga 1968.

Di kancah Eropa, nama Anderlecht juga harum. Mereka adalah klub Belgia dengan prestasi terbaik di kompetisi benua dengan lima trofi, termasuk dua Piala Winners (1976 dan 1978), satu Piala UEFA (1983), dan dua Piala Super Eropa (1976 dan 1978). Pada 1986, mereka bahkan pernah menempati peringkat pertama bersama Juventus dalam ranking UEFA.

Sejarah panjang klub ini dimulai pada 27 Mei 1908, saat sekelompok pecinta sepak bola mendirikan Sporting Club Anderlechtois di sebuah kafe bernama Concordia. Mereka memulai dari divisi provinsi ketiga, sebelum akhirnya promosi ke kasta kedua pada 1913. Perang Dunia I sempat menghentikan kompetisi, namun pada 1917 klub pindah ke Stadion Emile Verse di Astrid Park yang hingga kini menjadi markas mereka.

Promosi ke divisi utama terjadi pada 1921, meski perjalanan awalnya penuh naik turun. Anderlecht bahkan dijuluki "klub lift" oleh rival sekotanya, Union Saint-Gilloise dan Daring Club de Bruxelles, karena empat kali terdegradasi dan empat kali promosi antara 1923 hingga 1935. Namun sejak 1935, mereka tak pernah lagi turun kasta.

Era keemasan dimulai setelah Perang Dunia II. Dengan merekrut striker Jef Mermans dari Tubantia FC pada 1942 dengan rekor transfer 125.000 franc Belgia, Anderlecht meraih gelar liga pertama mereka pada 1947. Sukses berlanjut dengan enam gelar antara 1950-1956 dan dua gelar lainnya pada 1959 dan 1962.

Dekade 1960-an menjadi masa kejayaan absolut di bawah asuhan Pierre Sinibaldi dan Andreas Beres. Mereka memenangkan lima gelar beruntun dari 1964 hingga 1968, rekor yang masih bertahan hingga kini. Bintang utama tim adalah Paul Van Himst, yang empat kali meraih Sepatu Emas Belgia dan menjadi top skor liga pada 1965, 1967, dan 1969.

Di pentas Eropa, Anderlecht pertama kali tampil di Piala Champions pada 1955-1956. Namun kemenangan Eropa pertama mereka baru datang pada 1962-1963 setelah mengalahkan Real Madrid 1-0, menyusul hasil imbang 3-3 di Spanyol. Mereka akhirnya terhenti di perempat final oleh Dundee.

Puncak prestasi Eropa terjadi antara 1975-1984. Di bawah era keemasan itu, Anderlecht mencapai tiga final Piala Winners berturut-turut. Mereka menjuarai edisi 1976 usai mengalahkan West Ham United 4-2 di Brussel, dan kembali juara pada 1978 dengan skor 4-0 atas Austria Wien di Paris. Satu final lainnya di 1977 harus hilang setelah kalah 2-0 dari Hamburg.

Kesuksesan di Piala Winners juga membawa mereka ke Piala Super Eropa. Anderlecht mengalahkan Bayern Munich pada 1976 dengan agregat 5-3, dan Liverpool pada 1978 dengan skor 4-3. Pada 1983, mereka menambah koleksi trofi Eropa dengan memenangkan Piala UEFA setelah mengalahkan Benfica 2-1 di final.

Namun, ada noda kelam pada 1984. Anderlecht mencapai final Piala UEFA namun kalah dari Tottenham Hotspur. Belakangan terungkap pada 1997 bahwa mereka menyuap wasit semi final sebesar 27.000 poundsterling untuk memastikan lolos mengalahkan Nottingham Forest.

Memasuki era 1990-an, Anderlecht masih mampu mencapai satu final Eropa, yaitu final Piala Winners 1990 yang kalah dari Sampdoria. Di kompetisi domestik, mereka tetap dominan dengan empat gelar liga di dekade tersebut.

Pada 2000-an, Anderlecht meraih lima gelar liga lagi, termasuk musim 2009-2010 yang menjadi gelar ke-30 mereka. Di Liga Champions 2000-2001, mereka untuk pertama kalinya lolos ke babak grup kedua, meski akhirnya finis di belakang Real Madrid dan Leeds United.

Era 2010-an diwarnai dengan naik turun. Mereka meraih tiga gelar beruntun 2012-2014, namun sempat mengalami masa sulit termasuk gagal lolos ke kompetisi Eropa pada 2019-2020 untuk pertama kalinya dalam 55 tahun. Kehadiran legenda klub Vincent Kompany sebagai pemain belum mampu mengembalikan kejayaan.

Setelah beberapa musim mengecewakan, Anderlecht kembali bersaing di papan atas pada musim 2023-2024 dengan finis kedua di regular season. Namun rivalitas baru muncul dengan sesama klub Brussel, Union Saint-Gilloise, yang pada 2026 mengalahkan mereka di final Piala Belgia.

Markas Anderlecht di Lotto Park, sebelumnya bernama Constant Vanden Stock Stadium, berada di Astrid Park. Stadion yang dibangun 1983 ini berkapsitas 22.500 penonton setelah berkurang dari kapasitas awal 40.000 karena alasan keamanan. Rencana pindah ke Eurostadium 60.000 kursi batal pada 2017 karena proyek yang molor.

Warna ungu dan putih menjadi ciri khas Anderlecht, yang konon terinspirasi dari parade bunga dengan anggrek ungu dan putih untuk Ratu Elisabeth. Lagu kebanggaan "Anderlecht Champion" karya Lange Jojo yang dirilis 1985 selalu menggema di stadion sebelum setiap laga kandang.

Akademi muda Anderlecht di Neerpede terkenal sebagai salah satu yang terbaik di Eropa di luar lima liga top. Mereka telah melahirkan bakat-bakat seperti Romelu Lukaku, Youri Tielemans, dan Jeremy Doku. Tak hanya sepak bola pria, klub ini juga memiliki tim wanita, rugby, futsal, dan bahkan pernah memiliki tim balap Superleague Formula.

Topics
rsc anderlecht anderlecht sepak bola belgia belgian pro league paul van himst lotto park club brugge standard liege uefa akademi sepak bola
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.