Kabayan News Kabayan News
/home / olahraga / Profil Nevio Scala, Arsitek Kejayaan...
OLAHRAGA

Profil Nevio Scala, Arsitek Kejayaan Parma di Era 90-an

By Redaksi Kabayan News • 4 min read • 2 Agustus 2026
Nevio Scala pelatih legendaris Parma di era 1990-an

Nevio Scala pelatih legendaris Parma di era 1990-an

Nevio Scala adalah salah satu arsitek kebangkitan Parma di era 1990-an. Pria kelahiran Lozzo Atestino, 22 November 1947 ini memulai karier sebagai gelandang dan meraih sukses bersama AC Milan sebelum beralih profesi menjadi pelatih yang mengubah wajah sepak bola Italia.

Sebagai pemain, Scala mencatatkan karier gemilang dengan berseragam Milan pada 1967-1969. Ia sukses meraih tiga trofi bergengsi yakni Scudetto Serie A 1967-68, Piala Winners Eropa 1967-68, dan Piala Champions Eropa 1968-69. Selain Milan, ia juga memperkuat Roma, Vicenza, Inter, Fiorentina, Foggia, Monza, hingga Adriese.

Namun nama Scala justru melejit saat menjadi pelatih Parma. Ia datang ke klub Emilia-Romagna yang masih berkutat di Serie B pada 1990 dan langsung mengantar tim promosi ke Serie A. Bersamaan dengan dukungan finansial dari presiden Calisto Tanzi, Scala membangun Parma menjadi kekuatan baru di Italia.

Puncak kejayaan Parma di bawah Scala terjadi pada periode 1992 hingga 1995. Ia mempersembahkan Coppa Italia 1992, Piala Winners dan Piala Super Eropa 1993, serta Piala UEFA 1995. Parma juga finis ketiga di Serie A pada musim 1992-93 dan 1994-95, prestasi luar biasa bagi klub yang sebelumnya tidak pernah sekelas.

Scala dikenal sebagai pelopor formasi 3-5-2 atau 5-3-2 yang fleksibel di Serie A. Gaya permainannya terinspirasi dari total football Belanda dan mengutamakan penguasaan bola dengan tempo tinggi. Ia memadukan zonal marking dengan libero seperti Lorenzo Minotti yang ditemani dua bek stopper Luigi Apolloni dan Georges Grun.

Filosofi Scala sangat kontras dengan gaya khas Italia saat itu yang masih terpaku pada catenaccio. Ia memberikan kebebasan kepada bek sayap seperti Antonio Benarrivo dan Alberto Di Chiara untuk overlapping dan overload sisi lapangan. Kipernya pun dituntut bermain dengan kaki seperti Claudio Taffarel, Luca Bucci, atau Gianluigi Buffon yang saat itu masih muda.

Setelah meninggalkan Parma pada 1996, Scala melanjutkan petualangan sebagai pelatih keliling Eropa. Ia menangani Perugia, Borussia Dortmund, Besiktas, Shakhtar Donetsk, hingga Spartak Moscow. Prestasi gemilang ia raih bersama Dortmund dengan gelar Piala Interkontinental 1997, serta dua trofi di Ukraina dan satu Piala Rusia 2003.

Pada 2015, Scala kembali ke Parma sebagai ketua klub setelah tim tersebut bangkrut. Ia berhasil membawa Parma promosi dari Serie D ke Lega Pro pada 2016. Namun ia mengundurkan diri pada November 2016 karena berselisih dengan manajemen terkait pemecatan pelatih Luigi Apolloni dan direktur teknis Lorenzo Minotti.

Saat ini Scala aktif sebagai pengamat sepak bola di RAI Radio 1 dan menjadi anggota dewan kota di kampung halamannya, Lozzo Atestino. Warisannya sebagai pelatih inovatif yang membawa Parma ke peta Eropa tetap dikenang, bahkan gaya manajemennya menginspirasi banyak pelatih modern termasuk Gianfranco Zola.

Topics
nevio scala parma ac milan serie a italia pelatih sepak bola borussia dortmund shakhtar donetsk formasi 3-5-2 sejarah sepak bola legenda italia
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.