Pelarian seorang wanita berinisial HCTW (20) yang kerap melancarkan aksi penipuan dengan menjual perhiasan imitasi akhirnya harus terhenti. Berdasarkan laporan pihak kepolisian, pelaku tercatat telah puluhan kali melancarkan aksi serupa di wilayah Tangerang Selatan, Banten, sebelum akhirnya kedoknya terbongkar di sebuah toko emas kawasan Pamulang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Mengutip laporan kepolisian, kasus ini mula-mula mencuat setelah video yang memperlihatkan pelaku diamankan oleh aparat beredar luas di media sosial. Berdasarkan analisis tim redaksi, maraknya kasus semacam ini menunjukkan perlunya peningkatan sistem verifikasi yang lebih ketat di sektor perdagangan logam mulia agar celah kejahatan dapat ditutup secara maksimal.
Kronologi terbongkarnya aksi tersebut bermula ketika HCTW mencoba menawarkan barang tiruannya di sebuah toko emas di Pamulang. Namun, penjaga toko langsung menaruh curiga karena mengenali ciri-ciri fisik pelaku yang mirip dengan sosok yang pernah melakukan transaksi mencurigakan di cabang toko mereka sebelumnya di daerah Ciputat.
"Toko emas Ciputat punya rekaman CCTV, punya pendukunglah semua. Jadi mewanti-wanti kepada petugas tokonya, kalau ada orang ini menjual, tolong ditolak ataupun lapor ke polisi," ungkap Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq saat dikonfirmasi.
Berkat komunikasi yang cepat antar-cabang toko, pihak penjaga segera menghubungi aparat kepolisian setempat untuk mengamankan pelaku. HCTW kemudian diserahkan kepada pihak Polsek Ciputat Timur mengingat telah ada laporan resmi yang dibuat oleh pihak korban atas kejadian serupa pada tahun sebelumnya.
Dalam proses pemeriksaan awal, pelaku melancarkan aksinya dengan modus operandi yang terbilang licik. Dari pengakuan verbal yang disampaikan dalam Berita Acara Pemeriksaan, HCTW mengaku sudah beraksi di sekitar 20 toko emas yang tersebar di berbagai sudut wilayah Tangerang Selatan.
Lebih lanjut, awak media mencatat adanya pola sistematis dalam tindakan pelaku yang sengaja menyasar toko-toko dalam kondisi padat pengunjung. Menurut keterangan polisi, situasi keramaian tersebut dimanfaatkan pelaku agar proses verifikasi kadar keaslian emas menjadi kurang mendetail akibat antrean yang menumpuk.
"Jadi kan kadang-kadang, kalau ramai kan, antrean banyak yang untuk ngecek verifikasi, apa semua, kadarnya kan lama tuh. Dia memanfaatkan itu," jelas Kompol Bambang menambahkan bahwa setiap beraksi, pelaku selalu mencoba menjual barang palsu dengan berat rata-rata sekitar 20 gram.