Ajang sepak bola bergengsi tingkat global seperti Piala Dunia ternyata tidak pernah sepi dari sasaran penyebaran informasi palsu atau hoaks. Berbagai tema hoaks kerap dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk mengecoh publik di berbagai platform media sosial. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, fenomena ini menunjukkan bahwa arus informasi digital masih rentan disusupi disinformasi yang berpotensi menyesatkan masyarakat luas.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Salah satu isu bohong yang sempat menyita perhatian publik adalah klaim mengenai Cristiano Ronaldo yang dikabarkan sukses merengkuh trofi Piala Dunia. Berdasarkan penelusuran, beredar foto manipulasi yang menampilkan bintang asal Portugal itu bersanding dengan Lionel Messi sembari memegang piala. Narasi tersebut sukses menarik jutaan penayangan di Facebook sebelum akhirnya dipastikan sebagai informasi yang tidak benar atau hasil rekayasa digital semata.
Selain itu, gelombang hoaks juga sempat menerpa kancah sepak bola nasional, terutama terkait status Indonesia sebagai tuan rumah ajang internasional. Mengutip laporan dari kanal cek fakta, sempat muncul klaim bohong yang menyebutkan bahwa Indonesia tetap menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 setelah Presiden Jokowi turun tangan melobi Presiden FIFA Gianni Infantino. Isu keliru serupa juga kembali mencuat dengan narasi palsu yang mengeklaim Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 2030.
Dari analisis awak media, maraknya penyebaran hoaks ini menegaskan pentingnya literasi digital yang kuat di tengah masyarakat. Melawan hoaks merupakan langkah krusial untuk mencegah pembodohan publik yang dapat memicu kebingungan massal. Oleh karena itu, kehadiran lembaga pemeriksa fakta seperti Cek Fakta Liputan6.com yang telah terverifikasi oleh International Fact Checking Network menjadi garda terdepan dalam menyajikan kebenaran informasi kepada masyarakat.