Langit ufuk timur masih memeluk gelap ketika Nur Syakira telah melangkah menuju dapur asrama. Sebelum kokok ayam memecah sunyi dan kidung tarhim berkumandang, rutinitas harian perempuan asal Bone, Sulawesi Selatan ini sudah dimulai di beranda tapal batas negeri. Sejak menginjakkan kaki di Pulau Sebatik dua tahun lalu, ia mendedikasikan hidupnya untuk menanak nasi, menyiapkan lauk, dan memastikan asupan makanan cukup bagi 16 anak yang tinggal di asrama.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Aroma masakan yang mengepul hangat di waktu subuh menjadi penanda bagi anak-anak untuk bangun dari lelapnya. Nur Syakira memastikan anak-anak mandi, mengenakan seragam, menyisir rambut, hingga duduk rapi menikmati sarapan sebelum melangkah ke kelas. Setelah urusan anak-anak asuh selesai, barulah ia memandikan anak kandungnya yang berusia dua tahun, sementara sang suami bergegas pergi bekerja sebagai buruh bangunan di Desa Aji Kuning.
Nur Syakira merupakan seorang guru honorer di Sekolah Tapal Batas Madrasah Darul Furqan yang terletak di Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. Perannya melampaui tugas pengajar biasa karena ia mewakafkan diri untuk mendampingi serta merawat belasan anak pekerja migran Indonesia (PMI) yang berjuang mencari nafkah di perkebunan sawit Malaysia.
Tugas Nur Syakira tidak berakhir saat bel sekolah usai. Sepulang dari kegiatan belajar mengajar, ia kembali menyambut anak-anak untuk makan siang, memastikan mereka beristirahat, mengajar mengaji, mendampingi murojaah usai Maghrib, hingga menemani belajar malam. Semua tugas rumah tangga, seperti mencuci pakaian dan merapikan tempat tidur, turut diselesaikannya di tengah kesibukan mengasuh balitanya sendiri.
Sekolah Tapal Batas ini memiliki posisi strategis di garis batas darat Indonesia-Malaysia. Berada di area perkebunan sawit, fasilitas sekolah mencakup lima bangunan yang terdiri dari dua ruang kelas untuk tingkat SD, dua asrama putra dan putri, serta satu gedung kayu bersejarah yang menjadi cikal bakal berdirinya sekolah tersebut.
Mulai mengajar sejak tahun 2023, Nur Syakira mengaku tak pernah membayangkan akan memikul peran sebagai ibu asuh. Pengelolaan asrama semula diampu oleh Hj. Suraidah, pendiri sekolah sejak 2012. Setelah pendiri memasuki masa pensiun dan kewenangan sekolah beralih ke Kementerian Agama, Nur Syakira dengan penuh ketulusan melanjutkan estafet pengabdian menjaga asa anak-anak di garis depan Nusantara.