Jason Arday, profesor termuda berkulit hitam di Universitas Cambridge, kini berada di pusaran badai kontroversi. Tuduhan plagiarisme yang disertai klaim pelecehan fisik ekstrem, mulai dari ancaman pisau hingga pengiriman kepala babi ke rumah orang tuanya, mengguncang reputasi akademisi bintang itu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kisah Arday sebelumnya dianggap luar biasa. Didiagnosis autis dan mengalami keterlambatan perkembangan sejak usia tiga tahun, ia bahkan tak bisa berbicara sampai 11 tahun dan baru bisa membaca pada usia 18 tahun. Namun ia berhasil menembus dunia akademik elit dan menjadi profesor termuda di Cambridge.
Masalah mencuat ketika laporan media mengungkap lebih dari 100 bagian dalam disertasi doktoral Arday dianggap mirip dengan tesis mahasiswa Brunel University yang terbit enam tahun sebelumnya. Tuduhan ini pertama kali diangkat oleh Nathan Cofnas, akademisi yang pernah dipecat Cambridge karena pandangan kontroversialnya tentang ras.
Cofnas mengklaim telah menggunakan perangkat lunak pendeteksi plagiarisme dan menemukan banyak bagian yang "diangkat dengan sedikit pengeditan". Ia menyebut kesalahan penyalinan dari sumber asli pun masih terbawa dalam karya Arday.
Cambridge bereaksi keras dengan menyebut tuduhan itu sebagai "kampanye kotor untuk merusak kredibilitas" Arday. Universitas juga menegaskan bahwa Liverpool John Moores, tempat Arday meraih gelar doktor, telah meninjau dan menyatakan tidak ada pelanggaran akademik.
Namun sejumlah akademisi terkemuka yang berbicara kepada The Guardian justru menilai tuduhan plagiarisme itu valid. Seorang akademisi yang telah puluhan tahun meneliti bidang ras dan pendidikan menyatakan bahwa kasus ini jelas-jelas merupakan plagiarisme.
Kontroversi tak berhenti di ranah akademik. Arday juga membuat klaim mengejutkan tentang pelecehan yang dialaminya, termasuk ancaman pisau di kampus, pengiriman peluru dan pisang, hingga pemenggalan kepala babi yang dikirim ke rumah orang tuanya di London selatan.
Ia mengaku diancam oleh pria bertopeng di gedung fakultas sebanyak dua kali, namun tidak ada rekaman CCTV yang menangkap kejadian tersebut. Polisi Metropolitan London juga menyatakan bahwa investigasi soal kepala babi yang diklaim Arday "kategoris tidak benar" dan tidak pernah terjadi.
Klaim lain yang dipertanyakan adalah pencapaian filantropinya. Arday mengaku telah mengumpulkan dana £5 juta untuk amal selama 20 tahun dan berlari 600 mil dalam enam hari. Namun angka itu dikoreksi menjadi 12 hari setelah dua universitas mengubah pernyataan mereka di situs web.
Dalam pembelaannya, Arday mengatakan ia siap bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuat, namun menolak disebut pembohong. "Kami berbicara tentang dunia akademik. Saya tidak membunuh seseorang. Kekejaman yang saya alami dan pencitraan saya sebagai pembohong itu tidak bisa diterima," ujarnya kepada The Times.
Kasus ini telah memicu perpecahan di kalangan akademisi. Sebagian melihatnya sebagai serangan rasis terhadap akademisi kulit hitam, sementara yang lain menganggap tuduhan tersebut sebagai masalah integritas akademik yang harus ditangani secara serius, terlepas dari latar belakang pelakunya.
Bagi Arday, masa depannya kini tergantung pada hasil investigasi lanjutan dan kemampuannya untuk membuktikan kebenaran di tengah gempuran tuduhan yang menghancurkan reputasi yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.