Kota Ceuta, wilayah Spanyol di pesisir utara Afrika, dilanda krisis migrasi besar-besaran. Sekitar 50 ribu orang menyeberang dari Maroko dalam beberapa hari terakhir, memicu kekacauan dan menewaskan puluhan orang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Jumlah kedatangan itu lebih dari dua pertiga populasi biasa Ceuta. Hingga Jumat malam, lebih dari 37.500 orang telah dikembalikan ke sisi Maroko, dengan ratusan lainnya menyusul setiap jam.
Ceuta dan Melilla, wilayah Spanyol lainnya yang berjarak 400 km di timur, adalah satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Afrika. Spanyol telah menguasai Ceuta sejak 1580, namun Maroko tidak mengakui kedaulatan Spanyol atas kedua wilayah tersebut.
Biasanya, migran yang mencapai Ceuta atau Melilla segera dipulangkan. Namun kali ini, arus manusia begitu deras hingga aparat kewalahan. Banyak yang berenang dari kota Fnideq di Maroko sejauh 5 kilometer, atau dari Belyounech yang lebih dekat.
Insiden ini mengingatkan pada peristiwa 2021 ketika 8 ribu orang masuk Ceuta dalam satu hari. Namun skala kali ini jauh lebih besar. Pada 2022, 23 orang tewas saat 2.000 orang mencoba masuk ke Melilla.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez yang tiba di Ceuta pada Jumat menyalahkan penyelundup manusia. Ia mengatakan mereka menyebarkan rumor tentang putusan mahkamah agung Spanyol yang melarang pemulangan paksa migran yang tiba melalui laut.
Namun peneliti migrasi Matteo Villa dari Italian Institute for International Political Studies mencurigai ada motif politik. "50 ribu orang tidak datang dalam semalam jika biasanya hanya ratusan per bulan," ujarnya.
Villa menilai Maroko mungkin sengaja melonggarkan perbatasan sebagai sinyal ketidaksukaan atas kunjungan Sánchez ke Algiers pada 20 Juli lalu. Kunjungan itu menandai pencairan hubungan Spanyol-Aljazair yang sempat retak karena konflik Sahara Barat.
Hubungan Spanyol-Maroko sempat memburuk pada 2021 ketika Madrid mengizinkan pemimpin gerakan kemerdekaan Sahara Barat, Polisario Front, berobat Covid-19 di Spanyol. Krisis itu mereda setelah Spanyol mendukung rencana otonomi Maroko atas Sahara Barat.
Kekacauan di Ceuta memicu perpecahan di Uni Eropa. Pemerintah sayap kanan Italia menyerukan Spanyol diskors dari zona Schengen, sementara Prancis memperketat perbatasan dengan Spanyol.
Spanyol mengerahkan tentara dan polisi tambahan untuk memulihkan ketertiban. Sánchez menyebut insiden ini sebagai "pelanggaran integritas teritorial Spanyol" dan berjanji akan menindak tegas.
Menurut Organisasi Migrasi Internasional, lebih dari 35 ribu migran meninggal atau hilang di Laut Mediterania sejak 2014. Pada tujuh bulan pertama 2026 saja, 1.493 orang tewas atau hilang.
Krisis ini juga memicu perdebatan di dalam negeri Spanyol, di mana partai oposisi mengecam kebijakan legalisasi migran yang dinilai memicu gelombang kedatangan. Sementara itu, warga Ceuta yang biasa hidup rukun dengan penduduk Maroko kini dilanda ketakutan.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas Maroko belum mengeluarkan pernyataan resmi. Dunia internasional menunggu langkah selanjutnya dari Madrid dan Rabat untuk meredakan ketegangan di perbatasan paling sensitif Eropa-Afrika ini.