JAKARTA - Gangguan penglihatan masih jadi masalah global. WHO mencatat 2,2 miliar orang di dunia alami gangguan penglihatan jarak dekat atau jauh, dengan 1 miliar di antaranya tak tertangani. Kini teknologi bedah refraksi seperti LASIK Xtra dan SMILE Pro hadir sebagai solusi, namun pemilihannya tak bisa sembarangan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals and Clinics, dr Sharita R. Siregar, SpM(K), menjelaskan kelainan refraksi terjadi akibat perubahan bentuk kelengkungan kornea. "Perubahan bentuk atau kelengkungan kornea dapat menyebabkan kelainan refraksi, seperti miopia atau rabun jauh, hipermetropia atau rabun dekat, serta astigmatisme atau mata silinder," ujarnya.
Ia menambahkan, astigmatisme terbagi dua jenis. "Pada astigmatisme reguler, kelengkungan kornea masih berpola teratur dan umumnya dapat dikoreksi dengan kacamata. Sementara pada astigmatisme tidak teratur, cahaya dapat tersebar ke beberapa titik sehingga menimbulkan pandangan berbayang, distorsi, silau, dan halo," jelas dr Sharita.
Dari sekian banyak prosedur, LASIK masih jadi primadona. Teknik ini membentuk flap tipis pada kornea dengan laser femtosecond, lalu membentuk ulang stroma menggunakan laser excimer. Flap kemudian dikembalikan tanpa jahitan. Namun LASIK tak cocok untuk semua orang, terutama mereka dengan kornea tipis atau risiko regresi.
Alternatifnya, SMILE Pro hadir sebagai prosedur flapless. Laser femtosecond membentuk lenticule di dalam kornea, lalu dikeluarkan lewat sayatan mikro 2-4 milimeter. "SMILE Pro menggunakan ZEISS VISUMAX 800 dengan paparan laser sekitar 8-10 detik per mata. Karena sayatan kecil dan tanpa flap, struktur permukaan kornea lebih terjaga," ungkap dr Sharita.
JEC juga memperkenalkan LASIK Xtra, layanan yang hanya tersedia di jaringan mereka. Prosedur ini menggabungkan LASIK dengan corneal cross-linking (CXL). Setelah koreksi laser, riboflavin diaplikasikan dan diaktivasi sinar UV-A untuk memperkuat ikatan kolagen kornea. "LASIK Xtra cocok untuk pasien dengan kornea borderline, minus atau silinder tinggi, usia muda, atau risiko regresi," jelasnya.
Bagi yang korneanya tak ideal untuk laser, ICL atau Implantable Collamer Lens bisa jadi pilihan. Lensa tambahan ditanam di belakang iris tanpa mengikis kornea. Namun tak semua mata bisa menerima ICL, harus melewati pemeriksaan anatomi mata menyeluruh.
dr Sharita menekankan pentingnya pemeriksaan komprehensif sebelum bedah refraktif. Pemeriksaan meliputi refraksi, topografi atau tomografi kornea, ketebalan kornea, lapisan air mata, tekanan bola mata, hingga retina. "Secara umum, kandidat harus berusia minimal 18 tahun, ukuran minus atau silinder stabil setidaknya 12 bulan, tidak hamil atau menyusui, serta memiliki kondisi kornea yang aman," pungkasnya.
Pengguna lensa kontak juga diwajibkan melepas lensa dalam jangka waktu tertentu sebelum pemeriksaan. Tujuannya agar hasil pemetaan kornea lebih akurat. Konsultasi dengan dokter spesialis mata sangat dianjurkan untuk menentukan prosedur terbaik sesuai kondisi masing-masing pasien.