Pemerintah terus mempercepat Program Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) guna mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkarakter menuju Indonesia Emas 2045. Langkah ini sejalan dengan prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita yang menempatkan penguatan pendidikan, penguasaan sains dan teknologi, serta peningkatan kualitas SDM sebagai fondasi utama kemajuan bangsa.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mempercepat transformasi pendidikan vokasi tidak sekadar membenahi fasilitas fisik semata. Program revitalisasi ini mencakup peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan tata kelola, hingga penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) agar lulusan memiliki keseimbangan antara hard skill, soft skill, dan karakter.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa revitalisasi SMK merupakan investasi besar pemerintah dalam menyiapkan generasi masa depan. "Revitalisasi SMK bukan sekadar pembangunan atau perbaikan sarana prasarana. Revitalisasi adalah transformasi menyeluruh yang mencakup perubahan paradigma, tata kelola, proses pembelajaran, penguatan kemitraan dengan dunia kerja, dan peningkatan kualitas lulusan," kata Atip.
Atip menambahkan bahwa keberhasilan program ini membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, dunia industri, dan masyarakat. Tanpa tata kelola yang baik dan kolaborasi lintas sektor, manfaat transformasi vokasi tidak akan optimal dirasakan oleh peserta didik.
Implementasi kebijakan revitalisasi tersebut telah menunjukkan hasil nyata di lapangan, salah satunya di SMKN 1 Cianjur, Jawa Barat. Sekolah ini terus menerapkan filosofi BMW (Bekerja, Melanjutkan, Berwirausaha) dan berhasil menarik minat masyarakat tinggi, terbukti dari pendaftar tahun ajaran 2026 yang mencapai lebih dari 1.600 calon siswa untuk kuota 612 kursi.
Kepala SMKN 1 Cianjur, H. Ridna Ardiana, M.Pd., menjelaskan bahwa pembentukan karakter merupakan langkah awal sebelum memberikan pelatihan teknis. "Mulai dari kompetensi karakter seperti iman, takwa, hingga soft skill melalui nilai-nilai Pancawalu, yaitu cageur, bageur, bener, pinter, dan singer. Setelah karakter terbentuk, barulah hard skill diperkuat sesuai kebutuhan dunia kerja," jelasnya.
Selain menyelaraskan program keahlian seperti Retail Modern, Digital Marketing, dan Software Engineering, SMKN 1 Cianjur juga memperkuat konsep link and match lewat Kelas Industri Alfamart, Bank BJB, hingga peluang kerja internasional ke Jepang, Jerman, dan Malaysia. Langkah ini dirasakan langsung manfaatnya oleh siswi sekolah tersebut, Azzahra Fikhia, yang mengaku pembiasaan disiplin di sekolah membuatnya sangat siap menghadapi dunia kerja.