Sumber resmi Saudi mengungkapkan serangan udara kerajaan di Irak merupakan puncak dari upaya diplomatik yang telah habis. Riyadh juga mengaku telah menunjukkan "restrain maksimal" selama beberapa bulan terakhir sebelum akhirnya bertindak.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Pernyataan itu disampaikan juru bicara kepada Al-Ekhbariya TV seperti dilansir Anadolu. Pihak kerajaan menegaskan serangan itu tidak ditujukan kepada pemerintah atau rakyat Irak, melainkan kepada milisi yang mengancam keamanan Saudi.
"Serangan Saudi terjadi setelah semua langkah diplomatik dan politik telah ditempuh dan setelah tingkat pengendalian diri tertinggi dilakukan selama bulan-bulan terakhir," demikian pernyataan sumber tersebut dikutip Saudi state TV.
Lebih lanjut, operasi itu diklaim sebagai respons terukur dan terbatas yang menyasar gudang milisi. Target dipilih karena dinilai sebagai sumber ancaman bagi fasilitas sipil dan ekonomi vital milik Saudi.
"Milisi teroris ini merugikan kepentingan Irak serta hubungannya dengan negara Arab dan Islam. Mereka menjadikan tanah dan kemampuan Irak sebagai alat agresi terhadap negara tetangga," tegas sumber itu.
Sumber yang sama juga menepis upaya politisasi sektarian yang digulirkan pihak-pihak tertentu. Menurutnya, publik Irak yang bijak tidak akan terpengaruh oleh narasi yang justru merusak upaya rekonsiliasi dan stabilitas Irak.
Serangan bersama Saudi dan AS pekan lalu menyasar situs logistik dan depot senjata kelompok pro-Iran. Langkah itu disebut sebagai respons atas serangan drone ke fasilitas minyak dan pangkalan militer di kawasan.
Korban dari pihak Irak pun berjatuhan. Pasukan Mobilisasi Rakyat (PMF) mengklaim 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya luka-luka akibat serangan yang menyasar markas di tujuh provinsi.
Kelompok Islamic Resistance in Iraq memberi tenggat hingga pertengahan Agustus kepada pemerintah Irak. Mereka mendesak tindakan tegas terhadap "agresor" dan mengancam akan membalas dengan menyerang pasukan AS dan Saudi.