Mantan Kepala Staf Militer Israel sekaligus pemimpin oposisi, Gadi Eisenkot, menyatakan bahwa setiap kesepakatan di Gaza yang gagal membubarkan kemampuan militer dan pemerintahan Hamas adalah "kegagalan total" bagi pemerintah Israel. Pernyataan tegas ini muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump dan Board of Peace mengumumkan kesepakatan fase gencatan senjata berikutnya, yang hingga kini belum secara resmi didukung oleh Israel.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Dalam unggahan di platform X, Eisenkot mempertanyakan apakah Israel benar-benar dilibatkan dalam perundingan kesepakatan tersebut. Ia menyoroti tanda tanya besar mengenai status Israel sebagai mitra dalam perjanjian ini, atau justru kembali dipaksakan tanpa partisipasi penuh. Eisenkot juga mengkritik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dinilai gagal menyampaikan rincian kesepakatan kepada publik Israel.
Eisenkot menegaskan bahwa ujian utama dari setiap kesepakatan adalah apakah tujuan perang Israel di Gaza tercapai, terutama pembubaran Hamas. Menurutnya, selain pembebasan sandera, tujuan perang belum tercapai meskipun ada kemajuan di medan perang dan pengorbanan besar yang telah diberikan. Ia memperingatkan bahwa hasil apa pun yang tidak mencapai tujuan ini adalah kegagalan total.
Netanyahu sendiri berulang kali menyatakan bahwa tujuan perang adalah membebaskan semua sandera, membubarkan kemampuan militer dan pemerintahan Hamas, memastikan Gaza tak lagi menjadi ancaman, serta membentuk administrasi sipil yang mengeksklusifkan Hamas di Gaza. Namun, Eisenkot justru mengklaim bahwa hampir tiga tahun setelah serangan 7 Oktober 2023, Hamas telah membangun kembali kekuatan personel dan militernya hingga mendekati level sebelum perang.
Di sisi lain, Trump mengumumkan bahwa kesepakatan untuk perlucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya di Gaza telah tercapai, dengan pasukan Israel akan ditarik secara bertahap. Trump menyebut Mesir, Qatar, dan Turkiye sebagai pihak yang membantu mewujudkan terobosan bersejarah ini, sementara AS akan memastikan kepatuhan Israel terhadap kesepakatan 20 poin yang telah disetujui sebelumnya.