Kairo - Ketegangan di Timur Tengah meledak lagi. Presiden AS Donald Trump mengancam akan meluncurkan serangan lebih keras ke Iran. Ancaman ini keluar hanya beberapa jam setelah sebuah kapal tanker dilaporkan dihantam proyektil di Selat Hormuz dan Kuwait diserang drone asal Iran.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Trump menyampaikan ancaman itu saat rapat kabinet di Camp David, Maryland. "Kami hanya ingin menang," tegas Trump, mengisyaratkan aksi militer AS akan berlanjut. Ia menambahkan, AS bakal membalas Iran hingga negara itu tak mampu bertahan lagi.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengecam pelanggaran yang dilakukan Iran. "Bulan lalu Iran menandatangani MoU gencatan senjata dengan AS, namun dengan cepat melanggarnya, menembaki kapal komersial, dan menewaskan prajurit Amerika," ujar Leavitt dalam pernyataan resminya. "Iran akan terus menanggung akibatnya sampai mereka kembali ke meja perundingan," imbuhnya.
Di sisi lain, militer Kuwait mengonfirmasi pasukannya menghalau serangan drone Iran yang menghantam fasilitas vital di wilayah utara. Juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait, Mayor Jenderal Saud Abdulaziz Al-Otaibi, menyatakan tak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Selat Hormuz juga menjadi lautan panas. Angkatan Laut Inggris melaporkan sebuah kapal tanker dihantam proyektil di lepas pantai Oman, tepatnya 11 mil laut timur laut Lima. Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) juga mencatat ledakan besar di dekat kapal tanker lain di barat laut Kota Khasab.
Konflik tak hanya di laut. Di Jalur Gaza, Israel melancarkan serangan udara sengit yang menewaskan sedikitnya empat orang di Gaza tengah dan utara. Gempuran ini terjadi tak lama setelah Hamas menyatakan kesiapannya melucuti senjata, sebuah langkah yang sempat dianggap sebagai terobosan.
Kesepakatan pelucutan senjata Hamas sebenarnya bagian dari kerangka gencatan senjata inisiatif AS sejak Oktober 2026. Namun Israel belum memberi tanggapan resmi. Justru politisi sayap kanan Itamar Ben-Gvir menolak mentah-mentah. "Kesepakatan itu tak bisa diterima, Israel harus menang," tulis Ben-Gvir di platform X.
Militer Israel mengonfirmasi serangan menyasar posisi Hamas setelah instruksi evakuasi dikeluarkan. Hingga berita ini diturunkan, ketegangan masih berlangsung di dua titik konflik, dengan AS dan sekutunya terus memantau pergerakan Iran di kawasan.