Berdasarkan laporan dari Euronews, spesies ubur-ubur sisir yang dikenal sebagai Mnemiopsis leidyi atau sea cannibal kini tengah menyebar dengan sangat cepat di perairan Laut Baltik. Organisme laut ini mendatangkan ancaman yang sangat signifikan bagi kelangsungan hidup spesies marine asli serta sektor perikanan lokal di kawasan tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Mengutip data historis, makhluk invasif ini awalnya berasal dari pesisir Atlantik Amerika Utara dan Selatan yang memiliki rekam jejak invasi besar. Pada tahun 1988 silam, populasinya bahkan sempat mencapai kepadatan hingga 400 organisme per meter kubik di Laut Hitam sebelum akhirnya mengalami penurunan akibat menipisnya ketersediaan zooplankton.
Sebagai organisme pemangsa, sea cannibal melahap zooplankton dalam jumlah yang luar biasa besar sehingga memicu persaingan langsung dengan biota laut lainnya serta merusak rantai makanan ekosistem. Kehadirannya tergolong sangat berbahaya bagi populasi ikan komersial seperti ikan sprat dan sarden karena mereka memangsa telur serta larva ikan-ikan tersebut.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi dari data yang ada, untuk bertahan hidup di tengah kondisi lingkungan yang keras serta kelangkaan makanan, spesies ini menunjukkan perilaku kanibalisme dengan memangsa anak-anak mereka sendiri. Individu dewasa juga memproduksi telur dalam jumlah melimpah guna mencadangkan kalori ekstra saat masa-masa sulit.
Sebagaimana dilaporkan, predator alami seperti ikan tiga duri atau three-spined stickleback sebenarnya memangsa larva mereka, namun meningkatnya area minim oksigen atau hipoksia justru menurunkan aktivitas predator tersebut. Tekanan lingkungan ini secara tidak langsung mengurangi kontrol pemangsa alami dan memicu ekspansi pesat organisme asing ini.
Perubahan iklim turut memperparah kondisi dengan mengubah ekosistem Laut Baltik melalui peningkatan suhu air serta penurunan tingkat salinitas. Berbagai tekanan lingkungan yang semakin intensif ini berpadu dengan meluasnya zona mati oksigen, sehingga menciptakan kondisi ideal bagi perkembangan spesies non-natif.