Selama berabad-abad, peperangan diartikan sebagai pengerahan perangkat keras konvensional seperti tank, pesawat, artileri, dan senjata yang dibangun oleh segelintir kontraktor utama di bawah program pemerintah jangka panjang. Paradigma tersebut perlahan bergeser seiring meningkatnya peran perangkat lunak di mana semakin banyak tentara bertempur melalui layar komputer.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Industri kecerdasan buatan atau AI militer kini mencakup segala hal mulai dari komputasi awan hingga drone otonom dan perangkat lunak pengambil keputusan. Pergeseran ini berakar dari program drone AS pada dekade 2000-an dan 2010-an, yang mengubah pembunuhan jarak jauh berbasis layar menjadi ciri khas peperangan modern.
Miliaran dolar saat ini mengalir ke segelintir perusahaan yang memimpin transformasi AI di kalangan militer, sementara kompleks militer-industri lama menjelma menjadi kompleks militer-teknologi. Kementerian Pertahanan Inggris baru-baru ini menandatangani kontrak senilai 2 miliar pound dengan konsorsium Raytheon UK untuk melatih 60.000 tentara menggunakan AI.
Menurut peneliti dari Stockholm International Peace Research Institute atau SIPRI, industri militer AI terbagi menjadi empat kategori utama berdasarkan model bisnis mereka. Kategori tersebut meliputi kontraktor pertahanan lama, startup pertahanan atau neoprimes, raksasa teknologi, serta penyedia model dasar.
Perusahaan rintisan seperti Palantir dan Anduril menjadi nama terdepan yang mendominasi pasar lewat produk analitik data dan jaringan komando otonom mereka. Platform seperti Lattice milik Anduril dan Project Maven milik Palantir dirancang untuk mempercepat pengambilan keputusan di medan perang dengan menyaring data dari berbagai sumber secara langsung.
Di sisi lain, perusahaan teknologi besar seperti Google, Meta, dan Amazon Web Services juga semakin erat terikat dengan aplikasi militer setelah mendapatkan izin untuk jaringan rahasia Pentagon. Keterlibatan ini menandai babak baru di mana teknologi sipil dan militer semakin beririsan secara masif di kancah global.