Sebuah keretakan publik muncul antara pemerintah Iran dan televisi pemerintah mengenai cara menggambarkan situasi perang serta negosiasi dengan Amerika Serikat. Upaya para mediator internasional saat ini tengah mencoba mendorong kedua negara agar kembali ke jalur diplomasi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Dewan Informasi Pemerintah pada hari Jumat menuduh lembaga penyiaran negara IRIB melakukan "censorship" atau penyensoran setelah bagian dari pidato Presiden Masoud Pezeshkian tidak disiarkan kepada publik.
Dalam pidato tersebut, Presiden Pezeshkian menyatakan, "We went to the dear leader, explained the situation, and asked him what to do since he had said the "no war, no peace" conditions are bad for the country. He ordered us to go negotiate. We started the talks based on his order."
Pemerintah mengungkapkan bahwa pemotongan bagian pidato tersebut merupakan bagian dari serangkaian tindakan tidak biasa yang diambil oleh televisi pemerintah. Sebelumnya, pernyataan dari ketua parlemen dan kepala kehakiman juga mengalami perlakuan serupa.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi turut mengkritik IRIB karena dinilai gagal menampilkan pembelaan kuat Iran di hadapan publik Amerika Serikat. Araghchi menyatakan bahwa dirinya telah berjuang menyampaikan posisi negaranya melalui wawancara media internasional.
Di tengah ketegangan domestik tersebut, para mediator dari Oman tiba di Tehran untuk membahas pengelolaan Selat Hormuz yang menjadi titik krusial. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa komunikasi melalui mediator masih terus berlanjut di tengah situasi konflik yang memanas.