Perjalanan seorang perempuan asal Singapura bernama Shu Han Lee di ibu kota Inggris bermula dari sebuah rice cooker yang nyaris terbakar. Datang ke London pada usia 18 tahun untuk menempuh pendidikan desain grafis di Central Saint Martins, ia sama sekali tidak memiliki keahlian memasak. Bahkan, ibunya sempat berpesan agar ia fokus belajar di kantor ber-AC dan tidak perlu mengotori tangan di dapur. Namun, keterbatasan anggaran mahasiswa serta kerinduan mendalam terhadap cita rasa kuliner kampung halaman perlahan mengubah jalan hidupnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Bermodal kenangan akan masakan sang ibu dan jajanan hawker di Singapura, Lee mulai belajar memasak secara autodidak. Ia kerap membawa pulang belanjaan bahan segar seperti serai menggunakan kereta bawah tanah London. Setelah berhasil menguasai teknik dasar memasak nasi dan tumisan, ia memberanikan diri meracik rempah dari nol. Aktivitas memasak tersebut tidak hanya menjadi solusi untuk bertahan hidup, tetapi juga jembatan baginya untuk membangun jejaring pertemanan dengan sesama komunitas diaspora di London.
Hobi memasak yang awalnya dituangkan dalam blog dan klub makan malam privat itu perlahan berkembang menjadi sebuah peluang bisnis yang menjanjikan. Setelah meluncurkan buku masak pertamanya berjudul Chicken and Rice pada tahun 2016 dan disusul Agak Agak pada tahun 2024, permintaan terhadap bumbu racikannya terus meningkat. Para tamu yang hadir di acara kumpul-kumpul sering kali ingin membawa pulang bumbu rempah tersebut. Dari situlah Rempapa Spice Co lahir, berawal dari lapak pasar petani lokal hingga kini produknya resmi mejeng di rak-rak supermarket besar seperti Whole Foods dan Selfridges Oxford Street.
Meski produknya kini telah dikenal luas, tantangan terbesar bagi Lee adalah memperkenalkan istilah dan esensi rempah kepada konsumen di Inggris. Ia kerap harus beradaptasi dengan menyebut produknya sebagai pasta kari agar lebih mudah dipahami oleh pembeli lokal, sembari tetap mengedukasi mereka tentang kekayaan rasa autentik dari rempah. Dengan margin keuntungan yang ketat dan persaingan industri makanan yang kompetitif, perjuangan ini tentu tidak mudah. Kendati demikian, berbagai pesan positif dari pelanggan serta pencapaian menembus pasar ritel bergengsi terus memotivasi dirinya.
Kini, Lee bermimpi agar rempah dapat diterima masyarakat Inggris semudah mereka menerima saus pesto Italia yang sudah lebih dulu populer. Perjalanan panjang dari seorang mahasiswi yang gagal memasak nasi hingga menjadi wirausahawan kuliner sukses membuktikan bahwa dedikasi mampu mengubah rintangan menjadi peluang emas. Melalui Rempapa Spice Co, ia terus berinovasi meracik produk baru seperti saus satay, sekaligus merajut kembali rasa rindu rumah bagi siapa saja yang merindukan kelezatan kuliner Asia di negeri orang.