Penerapan etika serta norma unggah-ungguh dalam tatanan kebudayaan Jawa hingga saat ini masih menjadi fondasi utama yang tak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat. Berdasarkan paparan dalam acara Siaran Kawruh Pro 4 RRI Yogyakarta, pentingnya memelihara nilai-nilai luhur ini dibahas secara mendalam bersama akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menurut Dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM, Dr. R. Bima Slamet Raharja, S.S., M.A., etika Jawa pada hakikatnya berorientasi pada upaya menjaga keharmonisan, baik hubungan antarmanusia maupun hubungan dengan alam semesta. Dari pengamatan tim redaksi, keselarasan tersebut menjadi kunci utama dalam menjamin keselamatan serta ketenteraman hidup masyarakat Jawa.
Berdasarkan penjelasannya, Dr. Bima mengungkapkan bahwa etika bagi masyarakat Jawa merupakan bentuk kewajiban moral yang disesuaikan dengan kedudukan sosial masing-masing individu. "Etika bagi tiap individu masyarakat Jawa adalah semacam kewajiban-kewajiban khas yang ditentukan oleh kedudukan sosial serta nasibnya. Sebagai contoh, bagaimana aturan bersikap antara orang muda kepada yang lebih tua, maupun antarsesama," ujar Dr. Bima.
Dari pantauan redaksi, penerapan etika Jawa paling nyata terlihat pada tata cara berbahasa dan berkomunikasi sehari-hari. Berbeda dengan konsep egaliter barat, tata bahasa Jawa sangat menekankan nilai penghormatan dan keharmonisan, mulai dari cara menyapa hingga cara berinteraksi antara anak dan orang tua.
Menanggapi keprihatinan publik terkait isu melunturnya sopan santun pada generasi muda, Dr. Bima menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada anak-anak muda semata. Menurut beliau, generasi senior memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan keteladanan yang konsisten. "Lunturnya nilai etika tidak sepenuhnya kesalahan sosok yang muda. Ini menjadi tugas bersama bagi generasi di atasnya untuk terus memberikan arahan, teladan, serta dorongan ke arah yang lebih baik agar keselarasan hidup tetap terwujud," pungkasnya.