Sebuah rekaman video yang memperlihatkan detik-detik erupsi dahsyat Gunung Anak Krakatau dengan pancaran sinar pijar mendadak viral di berbagai platform media sosial. Video tersebut sempat memicu kekhawatiran publik lantaran dinarasikan sebagai peringatan bagi seluruh kapal yang melintas di perairan Selat Sunda untuk meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis tim redaksi, penyebaran konten hoaks seperti ini sangat rentan menimbulkan kepanikan massal di tengah masyarakat yang minim verifikasi. Beruntung, instansi berwenang bergerak cepat untuk meredam keresahan dengan memberikan klarifikasi resmi terkait kebenaran visual yang beredar luas di dunia maya tersebut.
Menanggapi kehebohan itu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, dengan tegas menyatakan bahwa video tersebut bukanlah rekaman aktivitas vulkanik yang sebenarnya di perairan Selat Sunda. "Video tersebut bukan merupakan rekaman aktivitas erupsi gunung api aktif di perairan Selat Sunda. Gunung Anak Krakatau hanya mengalami dua erupsi kecil dengan tinggi kolom abu masing-masing teramati sekitar 200 meter di atas puncak," ujar Lana Saria sebagaimana dikutip dari laman resmi Badan Geologi.
Senada dengan Badan Geologi, pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga turut mengeluarkan bantahan keras terhadap keaslian video tersebut melalui akun media sosial resmi mereka. BNPB memastikan bahwa visual letusan yang menampilkan sinar pijar mengerikan itu sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan murni merupakan informasi palsu.
Mengutip keterangan resmi BNPB, disebutkan bahwa "BNPB menyatakan video tersebut hoaks dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Gunung Anak Krakatau memang saat ini sedang dalam aktivitas erupsi, tetapi tidak seperti visual di video tersebut." Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa aktivitas vulkanik gunung tersebut masih dalam batas aman dan tidak sesuai dengan narasi menakutkan yang disebarkan oknum tidak bertanggung jawab.
Melalui pengamatan dan literasi media yang masif, pihak berwenang terus mengimbau masyarakat agar senantiasa merujuk pada kanal informasi resmi dari Badan Geologi atau PVMBG. Langkah verifikasi sebelum membagikan sebuah informasi di media sosial menjadi kunci utama guna mencegah pembodohan publik serta penyebaran disinformasi yang merugikan.